Detak.Media — Pengakuan Jorge Lorenzo membuka kembali dinamika panas di garasi Yamaha Motor Company jelang musim 2013. Dalam dokumenter Decoded di kanal Duralavita, Lorenzo menyebut momen kembalinya Valentino Rossi ke Yamaha terjadi saat posisi tawar sang legenda “tidak lagi setinggi dulu”.
Ucapan itu merujuk pada periode sulit Rossi bersama Ducati pada 2011–2012, sebelum akhirnya ia memutuskan pulang ke pabrikan Jepang yang membesarkan namanya.
Rossi meninggalkan Yamaha pada akhir 2010 untuk bergabung dengan Ducati. Namun, dua musim di sana jauh dari ekspektasi. Ia gagal meraih kemenangan, hanya mengoleksi tiga podium, dan kesulitan beradaptasi dengan karakter Desmosedici.
Hasil tersebut membuat reputasi Rossi sebagai pembalap dominan mulai dipertanyakan. Ketika kontraknya berakhir pada 2012, opsi kembali ke Yamaha terbuka—tetapi situasinya sudah sangat berbeda dibanding saat ia pergi sebagai juara dunia.
Lorenzo Sedang di Puncak Performa di Yamaha
Berbeda dengan Rossi, Lorenzo justru berada di fase terbaik kariernya. Ia datang ke musim 2013 sebagai juara dunia bertahan setelah merebut titel MotoGP 2012. Sebelumnya, Lorenzo juga membawa Yamaha meraih gelar pada 2010.
Menurut Lorenzo, pada titik itu Yamaha tidak memiliki alasan untuk menggeser posisinya. Ia merasa menjadi pusat proyek tim.
“Yamaha mengatakan mereka ingin kami berdua, tetapi tidak akan menyingkirkan saya. Saat itu saya adalah ‘raja’ di Yamaha,” ungkap Lorenzo dalam dokumenter tersebut.
Rossi Kembali, Tapi Bukan Lagi Favorit Utama
Duet Lorenzo–Rossi kembali terbentuk pada 2013. Namun di lintasan, peta persaingan sudah berubah. Musim tersebut didominasi Lorenzo, Dani Pedrosa, dan rookie sensasional Marc Marquez bersama Repsol Honda Team.
Rossi memang tetap kompetitif. Ia bahkan meraih kemenangan di Assen dan beberapa podium. Namun, ia lebih sering berada di belakang trio perebut kemenangan.
Rossi menutup musim 2013 di peringkat keempat klasemen akhir. Sementara Lorenzo bersaing ketat memperebutkan gelar hingga seri terakhir sebelum akhirnya kalah tipis dari Marquez.
Rivalitas Panas yang Tak Pernah Padam
Hubungan Lorenzo dan Rossi sejak 2008 memang dikenal penuh ketegangan. Kembalinya Rossi pada 2013 tidak serta-merta mencairkan suasana. Meski keduanya profesional di lintasan, rivalitas di dalam tim tetap terasa.
Situasi ini kemudian mencapai puncaknya pada musim 2015, ketika Lorenzo dan Rossi terlibat perebutan gelar yang sarat kontroversi dan menjadi salah satu musim paling panas dalam sejarah MotoGP.
Marquez Tetap Dianggap Lawan Terberat
Menariknya, meski memiliki sejarah panjang rivalitas dengan Rossi, Lorenzo menilai lawan terberatnya justru Marquez. Pembalap asal Cervera itu langsung merebut gelar pada musim debutnya di 2013 dan mengulanginya pada 2014.
Bagi Lorenzo, persaingan teknis dan mental melawan Marquez terasa lebih intens dibanding dengan Rossi, terutama saat dirinya berada di puncak performa.
Pengakuan Lorenzo ini memberi gambaran jelas bahwa ketika Rossi kembali ke Yamaha pada 2013, situasinya telah berubah total. Ia tetap legenda MotoGP, tetapi di dalam tim, Lorenzo merasa sudah menjadi figur sentral yang tak tergeser.






