Bagnaia: Marc Marquez Tak Wajib Berdamai dengan Valentino Rossi soal Konflik 2015
Perseteruan panas MotoGP musim 2015 antara Marc Marquez dan Valentino Rossi kembali menjadi sorotan. Juara dunia dua kali kelas premier, Francesco Bagnaia, menegaskan bahwa Marquez tidak memiliki kewajiban untuk berdamai dengan Rossi atas insiden yang terjadi lebih dari satu dekade lalu. Pernyataan ini disampaikan Bagnaia saat tampil dalam podcast BSMT, menanggapi rivalitas legendaris yang masih membekas di kalangan penggemar.
Konflik antara Rossi dan Marquez memuncak pada GP Malaysia 2015 di Sirkuit Sepang. Saat itu, Rossi merasa Marquez mengganggu perjuangannya dalam perebutan gelar juara dunia melawan Jorge Lorenzo. Duel sengit di lintasan berujung kontak fisik yang membuat Marquez terjatuh dari motornya.
Rossi kemudian dijatuhi penalti start dari posisi paling belakang pada seri terakhir di Valencia. Situasi ini dinilai banyak pihak menggagalkan peluang Rossi meraih gelar dunia ke-10, sementara Lorenzo menjadi juara musim itu. Sejak kejadian tersebut, hubungan Rossi dan Marquez memburuk dan nyaris tidak pernah terlihat akur di depan publik.
Bagnaia: “Memang Seperti Itu Adanya”
Bagnaia, yang merupakan lulusan VR46 Riders Academy milik Rossi, mengakui bahwa insiden 2015 sempat memengaruhi dirinya secara emosional. “Sebagai bagian dari Akademi, Anda membawa serta semua penggemar besar Vale dan juga beberapa pembencinya. Itu normal,” ujar Bagnaia.
Ia menambahkan bahwa suara negatif di media sosial sering kali terdengar lebih lantang dibanding dukungan positif. Meski demikian, Bagnaia menegaskan dirinya adalah pebalap berbeda dan tidak ingin terus dibayangi konflik masa lalu. Saat ditanya apakah Marquez perlu berdamai dengan Rossi, Bagnaia menjawab lugas. “Saya rasa tidak ada kebutuhan untuk itu. Pada akhirnya, memang seperti itu adanya,” katanya.
Hubungan Profesional di Ducati
Menariknya, Bagnaia kini berbagi garasi dengan Marquez di Ducati Lenovo Team. Meski memiliki latar belakang berbeda—Bagnaia dekat dengan Rossi, sementara Marquez adalah rival lamanya—hubungan keduanya disebut berjalan profesional. Bagnaia mengaku kehadiran Marquez justru menjadi motivasi tambahan.
“Marc adalah salah satu pebalap terbaik dalam sejarah, bersama Valentino. Anda hanya bisa belajar dari pebalap seperti itu,” ujarnya. Ia juga menyebut Marquez mampu beradaptasi dengan cepat di lingkungan Ducati dan terlibat aktif dalam diskusi teknis. “Kami sering berdiskusi tentang situasi balapan dan solusi teknis. Hubungan kerja kami berjalan baik,” jelas Bagnaia.
Rivalitas yang Jadi Bagian Sejarah
Konflik Rossi–Marquez tetap menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah MotoGP modern. Bagi sebagian penggemar, luka lama itu belum sepenuhnya sembuh. Namun bagi Bagnaia, tidak semua rivalitas harus berakhir dengan rekonsiliasi.
Di tengah persaingan generasi baru dan dinamika tim yang terus berubah, ia memilih fokus pada performa di lintasan ketimbang membuka kembali cerita lama. Dengan musim MotoGP yang terus berjalan dan persaingan yang semakin ketat, warisan konflik 2015 mungkin tetap menjadi catatan sejarah — tanpa harus diselesaikan secara formal oleh kedua tokoh utamanya.