— NEW YORK — Indeks-indeks saham Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (13/7/2026) waktu setempat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kembali blokade terhadap pengiriman kapal Iran melalui Selat Hormuz, yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Sentimen pasar langsung terpukul karena pernyataan yang menempatkan AS kembali dalam posisi pengamanan jalur pelayaran strategis itu dan mengindikasikan potensi biaya tambahan bagi pengiriman internasional.

Dikutip dari CNBC internasional, indeks S&P 500 turun 0,79% ke level 7.515,34. Nasdaq Composite mencatat penurunan paling dalam, yakni 1,55% menjadi 25.873,18, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 138,37 poin (0,26%) ke posisi 52.498,64.

Trump melalui platform Truth Social menyatakan AS kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran maupun pihak yang melakukan perdagangan dengan negara tersebut.

Ia juga menegaskan AS akan menjadi ‘penjaga Selat Hormuz’ dan akan mengenakan biaya sebesar 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi jalur pelayaran strategis itu sebagai kompensasi atas biaya pengamanan.

Pernyataan tersebut langsung mengerek harga minyak. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 9,4% hingga menembus US$ 78 per barel, sedangkan minyak Brent naik 9,6% ke atas US$ 83 per barel.

Ketegangan meningkat setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan udara pada akhir pekan. Iran sebelumnya menyerang sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk dan mengklaim telah menutup Selat Hormuz. Namun, Trump membantah klaim tersebut dan menegaskan jalur pelayaran internasional itu masih terbuka bagi kapal-kapal komersial.

“Pasar akan bergerak terbatas sampai ada solusi nyata terhadap konflik di Timur Tengah,” kata CEO WEBs Investments Ben Fulton.

Tekanan jual paling besar terjadi pada sektor semikonduktor. Saham SK Hynix yang diperdagangkan di AS anjlok 9% setelah sempat melonjak 13% pada debutnya di Nasdaq pekan lalu.

Saham Micron Technology turun 4%, Sandisk merosot 12%, dan Seagate Technology melemah 5%. Sementara itu, Advanced Micro Devices (AMD) terkoreksi 4% dan Intel turun 6%.

Meski demikian, Fulton menilai prospek industri kecerdasan buatan (AI) masih tetap positif dalam jangka panjang meski saham-saham teknologi tengah mengalami aksi ambil untung atau profit taking.

Saham Bank AS Rontok

Selain sektor teknologi, saham-saham perbankan besar AS juga bergerak turun menjelang musim laporan keuangan kuartal II-2026. Saham JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, dan Citigroup semuanya ditutup di zona merah.

Investor juga menanti laporan keuangan emiten besar lainnya, seperti Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth yang dijadwalkan dirilis pekan ini.

Secara keseluruhan, analis memperkirakan laba perusahaan anggota S&P 500 pada kuartal II-2026 tumbuh lebih dari 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat periode Juni yang dijadwalkan keluar pada Selasa waktu setempat. Ekonom memperkirakan inflasi bulanan turun 0,2%, sementara secara tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,8%.

Selain itu, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan memberikan kesaksian di hadapan House Financial Services Committee mengenai laporan kebijakan moneter semesteran bank sentral AS. Pernyataannya akan dicermati investor untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga ke depan.