Detak.media — JAKARTA — Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar AS pada Rabu, 15 Juli 2026, menutup perdagangan dengan perbaikan meski pasar masih diwarnai ketidakpastian global.
Pada penutupan sore, rupiah naik 23 poin atau 0,13% ke level Rp 18.068 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 18.091 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, rupiah sempat menguat 24 poin atau 0,13% ke posisi Rp 18.067 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa rupiah melemah setelah Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia naik 2,1% atau mencapai US$ 444,4 miliar secara tahunan (yoy) pada Mei 2026.
“(Posisi ULN tersebut) sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang sebesar 2,0% (yoy), tetap dalam kondisi terkendali di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” Ibrahim menyoroti dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Rabu (15/7/2026).
Dari sisi eksternal, rupiah turut tertekan oleh meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah. Ketegangan memuncak setelah Presiden Donald Trump memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap semua pelabuhan Iran.
Iran juga menyatakan telah kembali menutup Selat Hormuz setelah ketegangan antara Iran dan AS kembali pecah pekan lalu, langkah yang memperlemah prospek gencatan senjata antara kedua negara.
Selain faktor geopolitik, pergerakan rupiah dipengaruhi data inflasi AS. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Juni tercatat meleset dari perkiraan, turun dari 4,2% menjadi 3,5% YoY.
Penurunan angka IHK tersebut meredakan ekspektasi pasar terhadap ruang kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed. Sementara itu, inflasi inti AS turun dari 2,9% menjadi 2,6%, juga lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 2,8%.
Ikuti Detak.media
