— Para pakar memproyeksikan nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, meski pada penutupan sore sebelumnya mata uang domestik sempat menguat tipis.

Pada sesi sebelumnya rupiah ditutup menguat 23 poin (0,13%) ke level Rp 18.068 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.091 per dolar AS.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diperkirakan melemah di rentang Rp 18.060 – Rp 18.110,” ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Rabu (15/7/2026).

Ibrahim menjelaskan penurunan yang berpotensi terjadi pada rupiah dipicu oleh laporan Bank Indonesia yang menunjukkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia naik 2,1% secara tahunan menjadi US$ 444,4 miliar pada Mei 2026.

Kenaikan ULN tersebut, menurut Ibrahim, terutama ditopang oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor publik, baik pemerintah maupun bank sentral. Pada saat yang sama, pemerintah juga terus melakukan pembayaran kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.

Dari sisi eksternal, rupiah diprediksi tertekan oleh kekhawatiran terhadap kemungkinan penutupan kembali Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran di Timur Tengah.

Faktor lain yang berkontribusi adalah data inflasi AS yang meleset dari perkiraan. Indeks Harga Konsumen AS untuk Juni turun dari 4,2% menjadi 3,5% secara tahunan (YoY), sementara inflasi inti menurun dari 2,9% menjadi 2,6%, juga berada di bawah perkiraan pasar sebesar 2,8%.

Data inflasi AS tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi untuk kenaikan suku bunga The Fed. CME FedWatch Tool kini menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16% dari 40%, sedangkan peluang kenaikan pada September turun menjadi 60% dari 74%.