— JAKARTA — Harga emas Antam (ANTM) masih berfluktuasi di tengah tekanan yang memengaruhi pasar emas dunia. Meski demikian, para pakar menganjurkan pemilik logam mulia untuk tidak tergesa-gesa melepas kepemilikan karena prospek jangka panjang dianggap masih menarik.

Pengamat pasar komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa koreksi harga emas dipicu oleh sentimen global, termasuk penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi dari The Fed, dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Ibrahim menyatakan kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah turut mendorong ekspektasi inflasi, sehingga peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi membesar dan memberi tekanan pada harga emas dunia.

“Kalau dolar AS menguat, harga minyak naik, dan inflasi meningkat, peluang kenaikan suku bunga juga semakin besar. Itu sebabnya harga emas dunia masih cenderung terkoreksi,” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, Ibrahim melihat pelemahan nilai tukar rupiah menjadi penopang harga emas Antam. Ia memperkirakan harga emas Antam berpotensi mencapai sekitar Rp2,9 juta per gram pada akhir 2026, meski peluang menembus level Rp3 juta per gram tahun ini masih cukup berat.

Ibrahim mengimbau investor yang sudah memiliki emas Antam agar tetap tenang dan tidak mengambil keputusan berdasarkan fluktuasi harga jangka pendek.

“Kalau yang sudah memegang emas, sebaiknya wait and see. Investasi emas itu untuk jangka menengah hingga panjang, sekitar tiga sampai lima tahun. Jadi koreksi seperti sekarang tidak perlu dikhawatirkan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa investasi emas sebaiknya menggunakan dana dingin, bukan dana yang dipakai untuk kebutuhan operasional atau kebutuhan sehari-hari.

Strategi Investasi Emas

Menurut Ibrahim, banyak investor mengalami kerugian karena terpaksa menjual emas saat harga turun akibat membutuhkan dana dalam waktu cepat.

“Kalau membeli emas menggunakan dana operasional, ketika harga turun akhirnya terpaksa dijual dan mengalami kerugian. Berbeda kalau menggunakan dana investasi, investor bisa menunggu sampai harga kembali naik,” ujarnya.

Bagi masyarakat yang belum memiliki emas, Ibrahim justru melihat kondisi saat ini sebagai momentum untuk mulai melakukan pembelian secara bertahap.

“Sekarang justru kesempatan yang cukup baik untuk mengoleksi logam mulia karena harganya sedang terkoreksi dibandingkan level tertingginya,” katanya.

Namun, ia mengingatkan investor untuk mempertimbangkan biaya transaksi emas batangan yang relatif tinggi, termasuk selisih harga beli dan jual (spread) serta pajak.

Karena itu, menurut Ibrahim, sebagian investor juga dapat mempertimbangkan emas perhiasan sebagai alternatif.

“Kalau emas perhiasan tidak dikenakan pajak seperti logam mulia dan spread-nya juga lebih kecil. Selain sebagai investasi, perhiasan juga bisa digunakan,” ujar Ibrahim.

Ia menegaskan, apa pun instrumen yang dipilih, investasi emas tetap lebih cocok bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang dan siap menghadapi fluktuasi harga dalam jangka pendek.