Detak.media — JAKARTA — Harga emas Antam masih berfluktuasi seiring tekanan pada pasar emas global. Meski demikian, pakar pasar komoditas mengimbau pemilik logam mulia agar tidak terburu menjual kepemilikan mereka karena prospek jangka panjang dianggap menarik.
Pergerakan harga saat ini disebut lebih dipengaruhi sentimen global seperti penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat pasar komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan koreksi harga emas saat ini lebih dipengaruhi sentimen global, mulai dari menguatnya dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, hingga memanasnya kembali konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menurut dia, kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah justru meningkatkan ekspektasi inflasi sehingga memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi. Kondisi tersebut membuat harga emas dunia masih berada dalam tekanan.
“Kalau dolar AS menguat, harga minyak naik, dan inflasi meningkat, peluang kenaikan suku bunga juga semakin besar. Itu sebabnya harga emas dunia masih cenderung terkoreksi,” ujar Ibrahim, Rabu (15/7/2026).
Meski begitu, Ibrahim menilai pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi penopang harga emas Antam di dalam negeri. Dia memproyeksikan harga emas Antam berpotensi mencapai sekitar Rp2,9 juta per gram pada akhir 2026, meski peluang menembus level Rp3 juta per gram tahun ini dinilai masih cukup berat.
Ibrahim mengimbau investor yang sudah memiliki emas Antam agar tetap tenang dan tidak mengambil keputusan berdasarkan fluktuasi harga jangka pendek.
“Kalau yang sudah memegang emas, sebaiknya wait and see. Investasi emas itu untuk jangka menengah hingga panjang, sekitar tiga sampai lima tahun. Jadi koreksi seperti sekarang tidak perlu dikhawatirkan,” katanya.
Ia menegaskan investasi emas sebaiknya menggunakan dana dingin, bukan dana yang dipakai untuk kebutuhan operasional atau kebutuhan sehari-hari.
Strategi Investasi Emas
Ibrahim mencontohkan banyak investor mengalami kerugian karena terpaksa menjual emas saat harga turun karena kebutuhan dana mendesak.
“Kalau membeli emas menggunakan dana operasional, ketika harga turun akhirnya terpaksa dijual dan mengalami kerugian. Berbeda kalau menggunakan dana investasi, investor bisa menunggu sampai harga kembali naik,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang belum memiliki emas, Ibrahim melihat kondisi koreksi harga sebagai kesempatan untuk mulai membeli secara bertahap.
“Sekarang justru kesempatan yang cukup baik untuk mengoleksi logam mulia karena harganya sedang terkoreksi dibandingkan level tertingginya,” katanya.
Namun, ia mengingatkan investor memperhitungkan biaya transaksi emas batangan yang relatif tinggi, termasuk selisih harga beli dan jual (spread) serta pajak.
Karena itu, menurut Ibrahim, sebagian investor dapat mempertimbangkan emas perhiasan sebagai alternatif.
“Kalau emas perhiasan tidak dikenakan pajak seperti logam mulia dan spread-nya juga lebih kecil. Selain sebagai investasi, perhiasan juga bisa digunakan,” ujar Ibrahim.
Ia menegaskan bahwa apa pun instrumen yang dipilih, investasi emas lebih cocok bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang dan siap menghadapi fluktuasi harga dalam jangka pendek.
Ikuti Detak.media
