— Harga emas yang masih berfluktuasi di tengah ketidakpastian ekonomi global mendorong masyarakat menimbang kembali pilihan investasi: perhiasan, emas digital, atau logam mulia.

Pengamat pasar komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai setiap jenis investasi emas punya karakteristik berbeda, namun bagi pemula perhiasan dianggap lebih menarik.

Biaya dan Fungsi

Ibrahim mengatakan salah satu pertimbangan adalah aspek biaya. Logam mulia dikenakan pajak dan memiliki selisih harga beli dan jual (spread) yang relatif lebar, sehingga dapat mengurangi potensi keuntungan, terutama bagi investor yang bertransaksi dalam jangka pendek.

“Kalau emas perhiasan tidak kena pajak. Berbeda dengan logam mulia yang dikenakan pajak. Selain itu spread harga beli dan jual logam mulia juga cukup tinggi, bisa mencapai sekitar Rp 300 ribu per gram,” ujar Ibrahim, Rabu (15/7/2026).

Ia menambahkan bahwa perhiasan memiliki nilai guna karena dapat dipakai sebagai aksesori tanpa menghilangkan fungsinya sebagai aset. “Perhiasan lebih menguntungkan karena selain untuk investasi juga bisa dipakai sehari-hari,” katanya.

Posisi Logam Mulia

Meski memberi catatan pada biaya, Ibrahim tetap menegaskan logam mulia layak sebagai instrumen investasi, khususnya bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang.

“Kalau sudah memiliki logam mulia sebaiknya wait and see. Investasi emas itu untuk jangka menengah hingga panjang, sekitar tiga sampai lima tahun. Koreksi harga saat ini merupakan hal yang wajar,” ujarnya.

Emas Digital Butuh Timing

Selain emas fisik, Ibrahim juga menyoroti investasi emas digital. Menurut dia, instrumen ini memiliki mekanisme perdagangan yang berbeda sehingga membutuhkan ketepatan dalam menentukan waktu transaksi.

Ia menyatakan pengalamannya pribadi sebagai pelajaran bagi investor digital. “Di emas digital pergerakan harganya lebih dinamis. Karena itu investor harus jeli menentukan momentum masuk dan keluar pasar. Jangan sampai membeli ketika harga sudah tinggi sehingga potensi keuntungannya menjadi terbatas,” katanya.

Prospek Harga

Di tengah koreksi harga emas global, Ibrahim melihat kondisi saat ini bisa menjadi peluang bagi masyarakat yang ingin mulai mengoleksi emas fisik dengan harga relatif lebih rendah.

Ia memperkirakan harga emas Antam masih sulit menembus Rp3 juta per gram hingga akhir 2026. Menurut dia, harga emas Antam berpeluang berada di kisaran Rp2,9 juta per gram pada akhir tahun, sedangkan level Rp3 juta per gram kemungkinan baru tercapai pada 2027.

Prospek harga emas ke depan, lanjut Ibrahim, masih dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat, penguatan dolar AS, hingga perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga komoditas dunia.