Detak.media — Sejumlah kilang di Asia membeli minyak mentah asal Amerika Serikat secara besar-besaran menyusul memburuknya keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan meningkatnya risiko pasokan dari Timur Tengah.
Para pelaku pasar melaporkan total sekitar 11 juta barel minyak mentah AS telah terjual ke pasar Asia hingga malam Selasa, 14 Juli 2026, dan sejumlah kesepakatan baru diperkirakan akan segera menyusul.
Pembeli terdiri dari perusahaan penyulingan besar di Korea Selatan, Jepang, dan Thailand. Beberapa kargo bahkan dijadwalkan mulai dimuat paling cepat bulan ini.
Minat beli terhadap minyak Amerika naik setelah pasar sebelumnya lesu akibat melimpahnya pasokan cadangan (backlogged) dari Timur Tengah yang memenuhi pasar spot. Namun arus pasokan tersebut kini terancam terputus total setelah runtuhnya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Beberapa eksekutif yang terlibat dalam penjualan minyak mentah AS dan pengadaan bahan baku untuk kilang-kilang di Asia mengonfirmasi bahwa mereka kembali membuka negosiasi untuk membeli kargo spot asal Amerika.
Selain alasan keamanan jalur laut, lonjakan pembelian minyak AS juga dipicu oleh naiknya harga minyak mentah di Timur Tengah. Kenaikan itu mempersempit selisih harga (spread) antara minyak regional Teluk dan minyak AS, sehingga minyak Amerika menjadi lebih kompetitif secara ekonomis.
Lalu Lintas Selat Hormuz Nyaris Lumpuh
Kondisi lapangan memburuk setelah serangan terhadap kapal-kapal komersial meningkat drastis beberapa hari terakhir, menyusul langkah AS yang kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Situasi yang terus menurun mengacaukan pasar pelayaran dan minyak global. Sebelum eskalasi terbaru, pasar sempat lega dan menyesuaikan diri seiring pulihnya arus pengiriman energi dari kawasan Teluk Persia.
Hingga Rabu, lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan nyaris tersisa sangat sedikit. Di sisi lain, Iran disebut mulai menyelundupkan kapal-kapal tanker keluar dari kawasan Teluk dengan mematikan sistem transponder agar tidak terdeteksi radar internasional.
Selat Hormuz sering disebut sebagai “arteri utama” pasokan energi global. Melalui jalur perairan sempit ini, sekitar 20% dari total konsumsi minyak bumi dunia diangkut setiap hari dari produsen-produsen besar Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Iran.
Negara-negara industri besar di Asia—khususnya Jepang, Korea Selatan, India, dan China—merupakan importir terbesar minyak mentah dari kawasan Teluk Persia. Ketergantungan tinggi terhadap pasokan Timur Tengah membuat ketahanan energi Asia sangat sensitif terhadap isu keamanan di Selat Hormuz.
Jika konflik bersenjata antara AS dan Iran memicu blokade pelabuhan, risiko keterlambatan pengiriman atau kehilangan kargo minyak menjadi ancaman nyata yang dapat melumpuhkan aktivitas industri di Asia.
Karena itu, langkah cepat pengelola kilang di Jepang, Korea Selatan, dan Thailand untuk mengalihkan pembelian ke AS dipandang sebagai upaya mitigasi risiko darurat.
Amerika Serikat, yang kini menjadi salah satu produsen minyak terbesar dunia berkat revolusi minyak serpih (shale oil), menjadi alternatif logistik yang relatif aman dan stabil secara geopolitik, meskipun jarak pengirimannya lebih panjang dibandingkan dari Timur Tengah.
Artikel ini merupakan penyusunan ulang dari laporan pasar energi terkini ke dalam format berita yang ringkas dan mengikuti kaidah penulisan bahasa Indonesia.
Ikuti Detak.media
