— Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah serangkaian serangan dan balasan yang meluas pada pertengahan Juli 2026. Insiden dimulai dengan serangan proyektil AS ke wilayah barat daya Iran, kemudian dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan gelombang rudal dan pesawat nirawak yang menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait.

Pejabat Provinsi Khuzestan menyatakan serangan AS pada Selasa malam (14/7/2026) mengenai sebuah silo penyimpanan gandum di Hoveyzeh dan satu lokasi lain di Dasht-e Azadegan, memicu respons keras dari pihak Iran.

“Penyelidikan masih berlangsung terkait dampak serangan itu, dan rincian lebih lanjut akan segera kami umumkan. Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa,” ujar Valiollah Hayati, Wakil Gubernur Khuzestan bidang keamanan dan penegakan hukum.

Ancaman AS Sebelum Balasan Iran

Serangan yang menimpa fasilitas ketahanan pangan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras mengenai eskalasi operasi militer. Trump memperingatkan akan mulai menargetkan pembangkit listrik hingga jembatan-jembatan di Iran mulai pekan depan jika Iran menolak kembali ke meja perundingan.

Operasi Nasr-2 Diluncurkan Iran

Menanggapi serangan tersebut, IRGC mengumumkan pelaksanaan “Operasi Nasr-2” pada Rabu pagi, menargetkan fasilitas logistik strategis AS di Kuwait.

Dalam pernyataan resmi, IRGC menyebut serangan balasan gelombang keempat dan keenam berhasil menghancurkan serta membakar fasilitas KJL, yang merupakan pusat persediaan dan logistik utama militer AS di Asia Barat, berlokasi di Mina Abdullah, Kuwait.

Selain itu, rudal dan drone IRGC dilaporkan menghantam pusat komunikasi satelit, sistem radar pertahanan udara, area pertahanan rudal Patriot, serta platform peluncuran rudal HIMARS milik AS di Kuwait.

IRGC menegaskan serangan itu tidak ditujukan kepada pemerintah atau rakyat Kuwait, melainkan fokus pada basis militer AS. Mereka juga mendesak rakyat Kuwait untuk segera mengusir pasukan AS dari negaranya karena keberadaan markas asing tersebut disebut menjadi ancaman dan sumber serangan terhadap Iran.

Militer Iran menegaskan operasi balasan akan terus berlanjut dan Selat Hormuz akan tetap ditutup total hingga agresi militer AS benar-benar berakhir.

Diplomasi Gagal, Eskalasi Meluas

Eskalasi pertempuran terbuka ini menandai runtuhnya upaya diplomasi regional. Sebelumnya, AS dan Iran sempat menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di Islamabad yang dimediasi oleh Pakistan, yang dirancang untuk mengakhiri konflik di Selat Hormuz dan membuka jalan menuju perdamaian berkelanjutan.

Namun, MoU itu runtuh setelah kedua pihak saling menuduh pelanggaran komitmen di lapangan. Iran melayangkan surat protes resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menuding AS mengkhianati perjanjian Islamabad.

Kegagalan diplomasi tersebut, ditambah langkah Iran menutup total jalur minyak Selat Hormuz, kini menyeret negara-negara tetangga seperti Kuwait ke dalam pusaran konflik hibrida berkepanjangan antara kedua kekuatan.