Detak.media — Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Iran pada Selasa (14/7/2026). Aksi ini terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memberlakukan kembali blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan memungut biaya keamanan bagi kapal asing yang melintasi Selat Hormuz.
Iran merespons dengan serangan udara yang menargetkan negara-negara sekutu AS di kawasan. Eskalasi ini menghancurkan kesepakatan damai sementara yang baru berjalan setengah jalan dari target 60 hari, dan menaikkan ancaman perang total yang berdampak pada ekonomi global.
Komando Sentral militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan mereka menyasar beberapa titik strategis di Iran, termasuk sistem pertahanan pesisir, situs rudal dan drone, serta fasilitas maritim. Iran membenarkan adanya serangan tersebut, namun belum merilis laporan resmi terkait jumlah korban maupun kerusakan material.
“Serangan ini akan terus memberikan konsekuensi berat bagi pasukan Iran dan melemahkan kemampuan mereka untuk menyerang warga sipil serta pelayaran komersial di Selat Hormuz,” tegas militer AS.
Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu sebagai “hantaman besar lanjutan” dan menegaskan AS resmi memberlakukan kembali blokade.
Dalam balasan cepat, Iran menyerang Bahrain dan Yordania, sekaligus menargetkan dua kapal tanker terafiliasi Uni Emirat Arab bernama Mombasa dan Al Bahiyah saat melintasi Selat Hormuz hingga sempat terbakar. Kementerian Pertahanan UEA melaporkan satu pelaut tewas dan delapan lainnya luka-luka akibat serangan tersebut, dan mengancam akan melakukan aksi balasan.
Garda Revolusi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kedua tanker itu dengan alasan kapal-kapal tersebut mengabaikan peringatan berulang kali.
Bahrain, yang menjadi markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, juga digempur rudal Iran pada Selasa pagi. Sirene peringatan bahaya berbunyi sebanyak tiga kali, memaksa warga sipil mencari tempat perlindungan. Militer Yordania melaporkan berhasil mencegat empat rudal yang ditembakkan dari wilayah Iran.
Kesepakatan Damai Sementara Di Ujung Tanduk
Rencana Trump untuk memblokade kembali pelabuhan Iran semakin menyudutkan kesepakatan damai sementara yang sempat meredakan konflik sejak pertengahan April lalu. Kesepakatan itu awalnya dirancang untuk meredakan ketegangan, membuka kembali jalur energi global, dan memberi waktu bagi negosiator merumuskan perjanjian damai permanen.
Selain blokade, Trump memicu kontroversi dengan menyatakan AS akan mengenakan apa yang disebutnya sebagai biaya perlindungan sebesar 20% dari nilai kargo bagi kapal-kapal asing yang ingin melintasi Selat Hormuz secara aman. Kebijakan ini bertentangan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang sebelumnya menjamin selat tersebut bebas dilalui tanpa biaya. Iran di sisi lain menegaskan memiliki hak penuh untuk mengatur lalu lintas dan memungut tarif di selat tersebut.
Upaya sepihak dari kedua negara dinilai melanggar norma kebebasan navigasi internasional. Akibat konflik yang kembali memanas, harga minyak mentah acuan dunia Brent melonjak hingga menembus angka di atas US$ 86 per barel pada perdagangan Selasa, memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya hidup global.
Nasib Perundingan Israel-Lebanon
Di tengah ketegangan AS-Iran, delegasi Lebanon dan Israel dijadwalkan tetap bertemu di Roma pada hari Selasa untuk melanjutkan negosiasi yang dimediasi oleh AS. Sejak perang meletus pada 28 Februari lalu, kelompok militan Hezbollah asal Lebanon turut menggempur Israel demi mendukung sekutunya, Iran, yang kemudian dibalas Israel lewat invasi darat ke Lebanon selatan.
Bulan lalu, kedua negara setuju pada kerangka kerja penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon selatan dengan syarat pelucutan senjata Hezbollah. Meski gencatan senjata di Lebanon saat ini masih bertahan, kelangsungannya kini dipertanyakan apabila AS dan Iran benar-benar terjun ke perang skala penuh.
Selat Hormuz merupakan jalur energi paling vital di dunia, di mana hampir seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melintas. Iran menyadari posisi geografis strategis ini dan kerap menggunakannya sebagai daya tawar politik terbesar. Dengan mengancam atau memblokade selat, Iran mampu mengguncang pasar energi global, menaikkan harga minyak, dan menekan negara-negara Barat secara ekonomi tanpa harus berperang terbuka berskala besar.
Eskalasi terbaru ini merupakan akumulasi dari gesekan geopolitik panjang. Kebijakan luar negeri AS yang kembali agresif di bawah kepemimpinan Donald Trump, termasuk pengenaan tarif dan sanksi berlapis, direspons Iran dengan mengaktifkan jaringan proksinya di Timur Tengah—mulai dari Hizbullah di Lebanon, faksi bersenjata di Irak, hingga tindakan yang menargetkan sekutu AS seperti Bahrain dan Yordania.
Kegagalan kesepakatan sementara ini menunjukkan bahwa tanpa penyelesaian akar masalah, seperti status program nuklir Iran dan jaminan keamanan regional bagi sekutu-sekutu AS, wilayah Timur Tengah berpotensi terus terjebak dalam siklus kekerasan yang mengancam stabilitas ekonomi global.
Ikuti Detak.media
