Detak.media — Situasi di Timur Tengah memanas setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara yang menargetkan beberapa instalasi militer Iran. Serangkaian serangan itu menyasar wilayah Bushehr, Chabahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi operasi militer tersebut pada Selasa (14/7/2026) dan menyatakan tujuan utama serangan adalah melemahkan kemampuan tempur Iran yang dinilai mengancam keselamatan kapal-kapal dagang di jalur strategis Selat Hormuz.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui platform X, CENTCOM menjelaskan operasi udara intensif itu berlangsung selama lima jam.
“Pasukan AS sukses menghantam berbagai sasaran militer di wilayah Iran guna melemahkan kemampuan mereka dalam mengganggu pelayaran komersial. Pasukan CENTCOM menggunakan amunisi presisi tinggi untuk menghancurkan sistem pertahanan pantai, situs peluncuran rudal dan drone, serta infrastruktur maritim militer Iran,” tulis pernyataan tersebut.
CENTCOM juga menyatakan saat ini AS telah menyiagakan dan mengerahkan lebih dari 50.000 personel tentara di seluruh kawasan Timur Tengah untuk mengantisipasi potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Saling Balas Serangan Dan Runtuhnya Kesepakatan Damai
Perseteruan bersenjata antara AS dan Iran terus meningkat setelah AS mengambil tindakan militer langsung sebagai respons atas serangkaian sabotase terhadap kapal-kapal niaga di Selat Hormuz.
Iran merespons dengan menyerang fasilitas-fasilitas militer AS di berbagai negara Timur Tengah memakai rudal taktis dan pesawat nirawak (drone).
Hubungan diplomatik kedua negara mengalami penurunan tajam. Pemerintah Iran menuduh AS mengkhianati nota kesepahaman (MoU) yang baru disepakati pada 17 Juni 2026. Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump menanggapi dengan menyatakan kesepakatan tersebut “telah berakhir” dan tidak lagi berlaku.
Sebelum gelombang serangan baru ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin (13/7/2026) mengklaim telah menggempur pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait sebagai balasan atas aksi udara AS yang menyasar provinsi-provinsi pesisir Iran sebelumnya.
Melalui saluran berita resmi Sepah News, IRGC menyebut serangan udara AS pada Minggu malam (12/7/2026) diluncurkan setelah pasukan penjaga pantai Iran mencegat dua kapal asing yang dinilai melakukan pelanggaran navigasi di Selat Hormuz.
Konfrontasi langsung berskala besar antara militer AS dan Iran di pesisir Teluk Persia ini menandai runtuhnya upaya diplomasi regional dalam beberapa tahun terakhir. Wilayah yang menjadi sasaran serangan AS, termasuk Bandar Abbas dan Bushehr, merupakan pusat pertahanan maritim, instalasi nuklir, dan logistik energi penting milik Iran.
Konflik di titik-titik tersebut menimbulkan ancaman terhadap stabilitas pasokan minyak mentah global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi lalu lintas sekitar sepertiga energi dunia.
Hancurnya nota kesepahaman 17 Juni 2026 dalam waktu kurang dari sebulan mencerminkan rapuhnya rasa saling percaya (mutual trust) antara kedua negara dan meningkatkan kekhawatiran internasional akan potensi meletusnya perang terbuka berskala penuh di kawasan Timur Tengah.
Ikuti Detak.media
