— Gelombang penawaran umum perdana (IPO) tahun ini muncul di tengah kondisi pasar modal yang menantang. Enam calon emiten—BACH, EMMI, JELI, PRDL, JECX, dan RANS—memasuki bursa pada periode ketika likuiditas menurun, arus dana asing belum pulih sepenuhnya, dan ketidakpastian ekonomi global membuat investor lebih selektif.

Meskipun demikian, banyak perusahaan tetap memilih melantai untuk mendanai ekspansi. Hasilnya: kualitas IPO sangat beragam, dari valuasi murah dengan fundamental kuat hingga penawaran yang mahal tanpa bukti pertumbuhan memadai.

Perbedaan Profil Risiko dan Peluang

Analisis komparatif menunjukkan setiap emiten membawa profil risiko dan peluang yang berbeda, sehingga tidak bisa diperlakukan seragam. Hendra Wardana, Founder Republik Investor, menilai investor sebaiknya fokus pada kualitas bisnis di balik harga saham, bukan sekadar nominal harga penawaran.

JELI, misalnya, memiliki brand awareness kuat lewat merek Inaco dan jaringan distribusi mapan. Namun pendapatan tiga tahun terakhir turun dari Rp 839 miliar menjadi Rp 753 miliar. Laba bersih naik dari Rp 2 miliar menjadi Rp 39 miliar, tetapi dorongan utama berasal dari efisiensi biaya dan perbaikan margin, bukan peningkatan penjualan.

“Artinya, investor yang membeli saham JELI pada valuasi sekitar 31 kali laba sedang membayar premi terhadap efisiensi, bukan terhadap pertumbuhan,” kata Hendra.

PRDL dan JECX: Kontras Valuasi dan Kinerja

PRDL muncul sebagai emiten dengan valuasi paling menarik di antara kandidat. Pada harga IPO Rp 120 per saham, perbandingan harga terhadap laba (PER) sekitar 12,3 kali, margin laba bersih sekitar 22,8%, dan ROE sekitar 20,5%.

Tetapi skala usaha PRDL masih kecil, dana IPO sekitar Rp 63 miliar, dan riwayat laba berfluktuasi sehingga konsistensi pertumbuhan perlu dibuktikan.

Sementara itu JECX bergerak di sektor rumah sakit—yang cenderung defensif—namun kinerja keuangan belum mencerminkan keunggulan sektor. Laba bersih 2025 masih di bawah capaian 2023, ROE sekitar 8,9%, dan valuasi diperkirakan mencapai sekitar 56 kali laba.

“Dengan kombinasi tersebut, investor harus membayar harga yang sangat mahal untuk perusahaan yang masih berada dalam proses memulihkan profitabilitasnya,” ujar Hendra.

RANS: Dari Popularitas ke Fundamental

Prospektus RANS memberikan dasar analisis yang lebih fundamental dibanding sekadar popularitas pendiri. Pada 2025, RANS mencatat pendapatan Rp 353,3 miliar dan laba bersih Rp 56,69 miliar, menghasilkan margin laba bersih sekitar 16%.

Perusahaan telah berekspansi dari media digital ke manajemen talenta, event organizer, food and beverage, lifestyle, kawasan wisata Cipungland, hingga kosmetik. Diversifikasi ini memperluas sumber pendapatan, namun sebagian besar masih bergantung pada daya beli konsumen.

Mayoritas dana IPO RANS akan dipakai untuk ekspansi, pembentukan anak usaha, akuisisi, dan pengembangan bisnis baru. Dengan kata lain, investor membeli growth story yang bergantung pada keberhasilan manajemen mengubah dana menjadi pertumbuhan laba berkelanjutan.

BACH, EMMI, dan Peringkat Keseluruhan

BACH dinilai menggabungkan banyak karakter yang dicari investor: skala bisnis besar, pertumbuhan laba sangat kuat dengan CAGR sekitar 111%, ROE sekitar 29%, dan valuasi relatif murah dengan PER sekitar 11,8 kali. Risiko utama terletak pada free float yang relatif kecil sehingga likuiditas pasca-pencatatan perlu diperhatikan.

EMMI menawarkan pertumbuhan laba paling agresif dengan CAGR sekitar 466% dan ROE sekitar 22%, tetapi struktur keuangan masih perlu penguatan karena rasio lancar di bawah satu kali. Dengan valuasi sekitar 26 kali laba, keberlanjutan pertumbuhan menjadi kunci.

Berdasarkan kombinasi valuasi, pertumbuhan, profitabilitas, dan kualitas neraca, peringkat kualitas IPO 2026 yang disarankan adalah: BACH di posisi pertama, diikuti PRDL, EMMI, JELI, RANS, dan JECX di posisi terbawah.

Pembelajaran Bagi Investor

Hendra mengingatkan euforia pasar bisa mengganggu rasionalitas. Banyak investor membeli IPO lantaran nama besar atau oversubscribed, berharap keuntungan cepat pada hari pertama perdagangan.

Padahal, keberhasilan investasi jangka panjang lebih ditentukan oleh kualitas fundamental perusahaan. Investor disarankan melakukan due diligence—membaca prospektus, memahami model bisnis, menghitung valuasi, menilai kualitas laba, mengevaluasi penggunaan dana IPO, dan mencermati risiko industri—sebelum memutuskan membeli saham IPO.

“Di pasar modal, investor yang berhasil bukanlah mereka yang membeli saham dengan harga paling rendah, melainkan mereka yang mampu membeli perusahaan terbaik pada harga yang masih masuk akal,” tutup Hendra.