— JAKARTA — Indeks-indeks utama Wall Street bergerak tidak seirama pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Dow Jones Industrial Average menutup sesi pada rekor tertinggi, sementara Nasdaq Composite mengalami penurunan signifikan didorong oleh saham-saham semikonduktor.

Dow Jones melonjak 594,83 poin atau 1,14% ke angka penutupan tertinggi sepanjang masa di 52.900,07, setelah sempat menyentuh rekor intraday 52.903,85. S&P 500 pada akhir sesi nyaris datar di level 7.483,24, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,8% menjadi 25.832,67.

Tekanan dari Sektor Semikonduktor

Penurunan Nasdaq dipicu aksi jual pada saham-saham chip untuk hari kedua berturut-turut. ETF VanEck Semiconductor (SMH) anjlok 4,5%, dipimpin oleh penurunan saham Teradyne sebesar 13,6% dan KLA yang merosot 11,5%.

Beberapa nama besar juga melemah: Nvidia turun 1,4% dan Micron Technology merosot 5,5%.

“Pasar kemungkinan sedang beralih dari sektor yang telah menguat tajam selama beberapa bulan terakhir ke sektor lainnya. Selain itu, investor juga mulai mengevaluasi kembali valuasi saham-saham AI, terutama jika perusahaan semakin sensitif terhadap tingginya biaya komputasi,”
— kata Anshul Sharma, Chief Investment Officer Savvy Wealth.

Kinerja Mingguan

Meski fluktuatif pada perdagangan harian, ketiga indeks utama tetap mencatat kenaikan sepanjang pekan yang dipersingkat karena libur. S&P 500 naik 1,8%, sementara Dow Jones dan Nasdaq masing-masing menguat sekitar 2% dan 2,1%.

Data Tenaga Kerja AS

Sentimen pasar dipengaruhi oleh laporan ketenagakerjaan AS yang mencatat penambahan 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah proyeksi ekonom sebesar 115.000. Di sisi lain, tingkat pengangguran turun menjadi 4,2% dibandingkan ekspektasi pasar 4,3%.

Angka ketenagakerjaan yang lebih lemah itu mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, karena pelaku pasar menilai bank sentral memiliki ruang lebih luas untuk menahan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

“Data ini sedikit mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Ditambah lagi, inflasi yang dipicu harga minyak mulai mereda sehingga pelemahan pasar tenaga kerja kemungkinan membuat bank sentral tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya,”
— ujar Bradford Smith, Portfolio Manager Janus Henderson Investors.