— Harga emas global sempat terkoreksi dari rekor tahun ini, namun tren kenaikan logam mulia dinilai belum usai. Sentimen ini muncul seiring dengan pembelian emas yang terus dilakukan bank-bank sentral di berbagai negara sebagai bagian dari strategi cadangan.

Survei terbaru oleh Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) mengungkapkan para pengelola cadangan devisa tetap optimistis terhadap prospek emas. Beberapa responden bahkan memperkirakan harga emas berpotensi bergerak di kisaran US$5.000–6.000 per ons troi dalam 12 bulan mendatang.

Menurut laporan OMFIF, daya tarik emas bagi bank sentral tidak semata karena potensi kenaikan harga. Emas dipandang sebagai instrumen untuk mendiversifikasi cadangan devisa, menjaga likuiditas, serta melindungi nilai aset di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Temuan OMFIF dipadukan dengan hasil survei tahunan World Gold Council (WGC) dua pekan sebelumnya yang mencatat 45% bank sentral berencana menambah cadangan emas dalam 12 bulan ke depan — angka tertinggi dalam sejarah survei tersebut. Hampir 90% responden meyakini total cadangan emas resmi bank sentral dunia akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Proyeksi Dan Peran Permintaan Bank Sentral

Prospek kenaikan cadangan emas memperkuat pandangan bahwa koreksi harga belakangan lebih bersifat sementara dibandingkan perubahan tren jangka panjang. Permintaan dari bank sentral dipandang sebagai pilar utama yang menopang harga emas.

Goldman Sachs turut menyampaikan optimisme serupa. Dalam proyeksi terbarunya, bank investasi asal Amerika Serikat itu memperkirakan harga emas bisa mendekati US$4.900 per ons troi pada 2027.

Berbeda dengan investor ritel dan manajer investasi yang cenderung aktif melakukan transaksi jangka pendek, bank sentral membeli emas sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Pembelian ini juga dimotivasi oleh upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS serta meningkatkan kepemilikan aset yang dianggap netral secara politik.

Sementara pasokan emas dari tambang dunia meningkat secara bertahap, permintaan besar dari bank sentral diperkirakan tetap menjadi penopang utama harga. Meski faktor seperti suku bunga, inflasi, dan pergerakan dolar AS tetap memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek, perubahan struktur permintaan dari lembaga resmi dinilai berpotensi menjaga tren kenaikan dalam jangka panjang.