— Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) tertekan pada penutupan perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, seiring penguatan nilai tukar ringgit dan pelemahan kontrak minyak sawit di bursa China.

Sentimen eksternal lain yang membebani pasar adalah penurunan harga minyak mentah dunia, menurut data pasar yang dipantau pada penutupan hari tersebut.

Pergerakan Kontrak Berjangka

Berdasarkan penutupan BMD pada Kamis, kontrak CPO untuk Juli 2026 turun 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.445 Ringgit per ton. Kontrak Agustus 2026 melemah 50 Ringgit menjadi 4.478 Ringgit per ton.

Kontrak September 2026 terkoreksi 51 Ringgit menjadi 4.506 Ringgit per ton, sementara kontrak Oktober 2026 turun 49 Ringgit menjadi 4.532 Ringgit per ton.

Kontrak November 2026 terpangkas 45 Ringgit menjadi 4.560 Ringgit per ton, dan kontrak Desember 2026 melemah 46 Ringgit menjadi 4.586 Ringgit per ton.

Tekanan Pasar dan Faktor Pendukung

Data dari Tradingview mencatat pelemahan harga minyak mentah ke level terendah sejak Februari, dipengaruhi optimisme atas kemajuan pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mengurangi dukungan bagi minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku biofuel, termasuk minyak sawit.

Pelaku pasar juga memilih berhati-hati menjelang rilis laporan bulanan mengenai permintaan dan pasokan minyak sawit yang dijadwalkan beberapa pekan ke depan. Namun, pelemahan CPO sedikit tertahan oleh kenaikan harga minyak nabati pesaing yang diperdagangkan di Chicago Board of Trade (CBOT).

Fundamental Indonesia

Dari sisi domestik, sentimen tetap didukung kebijakan mandatori biodiesel B50 yang resmi diberlakukan pada 1 Juli 2026. Kebijakan itu diperkirakan meningkatkan konsumsi minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel dalam negeri.

Data resmi menunjukkan ekspor minyak sawit mentah dan produk olahannya dari Indonesia mencapai 8,92 juta ton sepanjang Januari–Mei 2026, naik 7,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, catatan perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor minyak sawit selama 1–25 Juni 2026 meningkat sekitar 10,6%–11,1% dibandingkan Mei. Kenaikan ekspor tersebut berpotensi membatasi pelemahan harga CPO dalam jangka pendek.