Detak Media — Rangkaian serangan udara besar-besaran menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (2/7/2026). Akibat ledakan dan kebakaran, sedikitnya 18 warga tewas dan puluhan lainnya terluka, sementara sejumlah bangunan tempat tinggal hancur.
Rentetan ledakan mengguncang pusat kota sepanjang malam, memaksa ribuan penduduk mencari perlindungan di bunker dan stasiun metro bawah tanah. Kerusakan tercatat di lebih dari 20 titik di seluruh ibu kota.
Skala Serangan Dan Klaim Pihak Berwenang
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa Rusia meluncurkan 74 rudal dan 496 drone sepanjang malam. Juru bicara Angkatan Udara, Yuri Ihnat, mengatakan jumlah rudal balistik yang digunakan kali ini sangat tinggi, sementara tingkat pencegatan menurun akibat kelangkaan sistem pertahanan udara.
Dalam pernyataan yang disebarkan melalui Telegram, Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi melakukan “serangan massal” menggunakan senjata presisi jarak jauh dari udara, darat, dan laut. Otoritas Rusia menyebut serangan itu sebagai aksi balasan terhadap serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia sebelumnya.
Respons Pemimpin Dan Dampak Di Lapangan
Presiden Volodymyr Zelensky segera memutuskan mempersingkat kunjungannya ke Irlandia dan kembali ke Ukraina. “Serangan utama diarahkan ke Kyiv. Pasokan pertahanan udara untuk Ukraina adalah prioritas mutlak dan sangat kritis,” ujarnya, seraya mendesak para sekutu untuk terus memberikan bantuan pertahanan, termasuk rudal Patriot.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menetapkan Jumat (3/7/2026) sebagai hari berkabung di kota itu. Dia menyatakan beberapa bangunan mengalami kerusakan struktural yang parah di kota berpenduduk sekitar tiga juta jiwa.
Pekerjaan Penyelamatan Dan Kerusakan Fasilitas
Petugas penyelamat terus mencari korban di antara puing-puing, termasuk di sebuah blok apartemen sembilan lantai yang runtuh di sisi kiri Sungai Dnipro. Pemerintah kota melaporkan lebih dari 90 orang luka-luka, termasuk anak-anak dan petugas medis.
Kebakaran juga melanda Institut Biokimia Nasional, merusak laboratorium canggih dan peralatan langka. “Ini adalah bencana bagi ilmu medis dan biologi Ukraina,” kata ahli biologi Yurii Danylovych yang bekerja di institut tersebut.
Reaksi Internasional Dan Aksi Balasan
Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Mathernova, menggambarkan serangan itu sebagai pelepasan neraka ke Kyiv. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan pihaknya akan mengusulkan sanksi yang lebih berat terhadap industri militer Rusia dan menegaskan akan menambah tekanan jika serangan terhadap warga sipil berlanjut.
Di sisi lain, Ukraina melaporkan telah menghantam sebuah kilang minyak di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia, yang menewaskan satu orang. Eskalasi serangan jarak jauh antar kedua belah pihak juga memengaruhi kondisi pasokan energi.
Sejak invasi skala penuh pada Februari 2022, serangan udara terus menimbulkan korban sipil di berbagai kota Ukraina. Kedua pihak saling tuduh; otoritas Rusia menegaskan sasaran militer dan infrastruktur terkait kemampuan perang Ukraina, sementara Ukraina meningkatkan serangan balik ke fasilitas energi di wilayah Rusia.
Ikuti Detak Media
