— Nilai tukar rupiah (IDR) menguat terhadap dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan Selasa, 14 Juli 2026, meski pasar diwarnai sentimen negatif dari perkembangan geopolitik dan harga energi global.

Pada penutupan sore itu, rupiah ditutup menguat 19 poin ke level Rp 18.091 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp 18.109 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa penguatan rupiah terjadi meski pasar masih dibayangi oleh kekhawatiran bahwa penutupan Selat Hormuz kembali terjadi, akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran di Timur Tengah.

Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah ketegangan militer yang diperbarui dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan memungut biaya 20% pada kargo yang melewati Selat Hormuz untuk menutupi biaya keamanan tersebut. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran berlanjutnya lonjakan harga minyak dunia.

“Kenaikan harga minyak mentah berdampak pada pasar keuangan yang lebih luas, menekan pasar saham dan meningkatkan kekhawatiran inflasi karena investor menilai kembali potensi dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan global dan kebijakan bank sentral,” tulis Ibrahim dalam keterangan yang diperoleh pada Selasa (14/7/2026).

Selain faktor geopolitik dan energi, nilai tukar rupiah juga mendapat dorongan dari reaksi pasar terhadap pernyataan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller mengenai Indeks Harga Konsumen (CPI) AS. Dia menyebut, jika inflasi AS naik minggu ini, The Fed harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Dari sisi domestik, penguatan rupiah dipengaruhi oleh proyeksi S&P Global Ratings yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5% setiap tahun selama tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

S&P memproyeksikan untuk tahun ini ekonomi Indonesia tumbuh 5,1%—sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya.