— Selama puluhan tahun pembangunan dipahami sebagai proses mengejar negara maju dengan menyalin jalur yang sudah ditempuh. Pola itu melibatkan industrialisasi bertahap, penguatan manufaktur, dan peningkatan ekspor untuk menapaki puncak ekonomi.

Tetapi meniru tidak selalu menjamin keberhasilan. Konsep catch-up paradox menyatakan bahwa menyalin model negara pelopor tidak otomatis membuat negara pengejar mampu menyamai, apalagi melampaui, pionir tersebut.

Peluang Untuk Melompat

Di abad ke-21, strategi pembangunan mulai bergeser dari sekadar mengejar menjadi melakukan leapfrogging — melewati tahapan tertentu dan langsung mengadopsi teknologi atau model bisnis yang lebih maju. Revolusi kecerdasan buatan, digitalisasi, energi hijau, dan bioteknologi membuka peluang untuk lompatan tersebut.

Beberapa negara sudah menunjukkan jalur ini. Kenya tidak membangun jaringan perbankan tradisional kelas dunia, tetapi memanfaatkan ponsel untuk menciptakan sistem pembayaran digital M-Pesa. Korea Selatan berinvestasi besar pada teknologi digital ketika banyak pesaing mempertahankan teknologi lama, sehingga mendapatkan posisi dominan di segmen elektronik. Tiongkok dan India juga memanfaatkan platform digital dan teknologi informasi untuk membentuk ekosistem ekonomi baru tanpa harus melalui semua tahapan industrialisasi konvensional.

Empat Sektor Prospektif

Peluang pertama ada pada ekonomi digital dan kecerdasan buatan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan pasar internet yang luas, Indonesia berpotensi membangun ekosistem AI yang tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pengembang solusi yang sesuai dengan bahasa, budaya, dan kebutuhan lokal.

Kedua, transisi ke energi hijau. Dengan cadangan nikel, sumber panas bumi, dan potensi energi terbarukan lain, Indonesia bisa melampaui posisi sebagai penyedia bahan baku dengan mengembangkan hilirisasi ke manufaktur sel baterai, kendaraan listrik, penyimpanan energi, dan teknologi daur ulang baterai.

Ketiga, sektor keuangan digital menawarkan lompatan akses inklusif. Keterbatasan infrastruktur perbankan konvensional dapat diatasi melalui integrasi pembayaran digital, identitas digital, dan pembiayaan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah.

Keempat, modernisasi pertanian melalui teknologi sensor, satelit, kecerdasan buatan, dan Internet of Things memungkinkan pertanian presisi. Pendekatan berbasis data bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Syarat Agar Leapfrogging Terwujud

Leapfrogging tidak terjadi otomatis. Pertama, diperlukan investasi besar pada sumber daya manusia. Pendidikan harus berfokus pada sains, teknologi, rekayasa, matematika, dan keterampilan digital agar tenaga kerja mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologi baru.

Kedua, peningkatan belanja riset dan pengembangan. Tanpa investasi riset, negara hanya menjadi pengguna teknologi dari pihak lain, bukan pencipta solusi baru.

Ketiga, keberanian mengambil risiko. Kisah sukses lompatan teknologi umumnya lahir dari eksperimen yang penuh ketidakpastian; kebijakan harus mendorong inovasi sekaligus mengelola risiko dengan bijak.

Keempat, peran pemerintah sebagai katalisator. Negara perlu menciptakan ekosistem pendukung melalui regulasi adaptif, insentif fiskal, pembiayaan inovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, dan pembangunan infrastruktur digital.

Pada akhirnya, sejarah pembangunan menunjukkan bahwa keberhasilan bukan semata soal meniru, melainkan memanfaatkan perubahan. Indonesia tidak harus mengulangi semua tahap yang ditempuh negara lain, melainkan menemukan jalur yang sesuai dengan sumber daya serta kebutuhan nasional untuk melakukan lompatan pembangunan sebelum jendela peluang menutup.