BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal dan Panjang, Pakar UGM Beri Solusi

Potensi terjadinya musim kemarau panjang pada tahun 2026 telah menjadi perhatian para pakar. Emilya Nurjani, seorang pakar klimatologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengimbau masyarakat untuk segera melakukan praktik regulatory harvesting atau menampung air sebanyak mungkin sebagai langkah antisipasi.

Imbauan ini sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan musim kemarau tahun ini akan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Menurut Emilya, regulatory harvesting adalah sebuah metode praktis yang dapat dilakukan dengan cara menangkap air hujan langsung dari atap rumah atau melalui berbagai kegiatan lain yang bertujuan untuk menyimpan air dalam bentuk apa pun. Ia menekankan pentingnya aktivitas ini karena air tanah, yang merupakan sumber utama bagi banyak kebutuhan, pada dasarnya berasal dari resapan air hujan.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk lebih bijak dalam penggunaan air, menyesuaikannya dengan kebutuhan dan fungsi masing-masing.

“Misalnya untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya,” ujar Emilya, mengutip situs resmi UGM pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Prediksi BMKG: Musim Kemarau Lebih Awal dan Lebih Panjang

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis prediksi mengenai musim kemarau tahun 2026. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau mulai April 2026, diawali di wilayah Nusa Tenggara dan kemudian berangsur-angsur meluas ke wilayah lain.

Data BMKG menunjukkan bahwa sebanyak 114 zona musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen dari total 699 ZOM di Indonesia akan mengalami awal musim kemarau pada April.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan datang lebih awal atau maju dibandingkan normalnya. Sebanyak 325 ZOM atau 46,5 persen diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat.

Durasi musim kemarau di banyak tempat juga berpotensi menjadi lebih panjang karena awal kedatangannya yang lebih maju. BMKG memproyeksikan bahwa 400 zona musim atau sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya.

Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi secara bertahap. Sebagian besar wilayah Indonesia, sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen, diperkirakan mencapai puncak kekeringan pada bulan Agustus 2026. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (sekitar 12,6 persen) dan September (sekitar 14,3 persen).

Puncak kemarau pada Agustus ini mencakup wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua.

Dampak Kemarau Panjang terhadap Pertanian

Emilya Nurjani juga menyoroti dampak signifikan dari musim kemarau panjang terhadap sektor pertanian. Pemanasan global yang terus meningkat, dengan laju hampir dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir dibandingkan tahun 1970-an, telah meningkatkan intensitas cuaca ekstrem, termasuk kekeringan. Suhu Bumi yang telah meningkat 0,35 derajat Celsius ini tidak hanya menyebabkan cuaca panas, tetapi juga berdampak pada ketahanan pangan.

“Karena kalau kemaraunya panjang maka akan berdampak pada sektor pertanian. Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama di pola masa tanam yang ketiga,” jelas Emilya.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan gagal tanam dan gagal panen, yang pada akhirnya akan menurunkan produksi pertanian secara nasional.

Menanggapi hal ini, pakar agrometeorologi UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho, menekankan pentingnya adaptasi bagi para pelaku di sektor pertanian. Ia menyarankan komunikasi yang lebih intensif antara petani dan penyuluh pertanian sebagai kunci mitigasi risiko.

Petani seringkali kurang mendapatkan informasi akurat mengenai kondisi cuaca yang tidak menentu, sehingga pendampingan dari penyuluh menjadi krusial. Selain itu, BMKG juga merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan serta memiliki siklus tanam lebih pendek.

Pentingnya Pengelolaan Air dan Mitigasi

Dalam menghadapi potensi kemarau panjang dan lebih kering pada tahun 2026, praktik regulatory harvesting yang dianjurkan oleh Emilya Nurjani menjadi semakin relevan.

Metode ini, yang secara sederhana berarti menampung air hujan, dapat membantu menjaga ketersediaan air di tengah musim kering. Pengelolaan air yang bijak, termasuk pemanfaatan air tanah untuk kebutuhan domestik dan air permukaan untuk keperluan lain, perlu terus digalakkan.

Peningkatan intensitas cuaca ekstrem, termasuk angin kencang, juga menjadi fenomena yang perlu diwaspadai. Laju pemanasan global yang meningkat seiring dengan kenaikan suhu Bumi berkontribusi pada peningkatan penguapan dan potensi terjadinya cuaca ekstrem.

Oleh karena itu, kesiapan masyarakat dalam menghadapi kondisi kekeringan dan potensi bencana lainnya sangatlah penting.