— Menjalankan rumah makan keluarga sejak 1976, Warung Betawi H. Muhayar kini menggabungkan tradisi rasa dengan pengelolaan keuangan yang lebih modern. Di tengah kenaikan harga bahan baku dan pergeseran kebiasaan transaksi pelanggan, pemiliknya memilih memisahkan dana usaha dan pribadi untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Mumun, pemilik warung, mengatakan tantangan utama bukan hanya mempertahankan jumlah pengunjung, tetapi juga menjaga kualitas makanan ketika biaya produksi terus naik. “Kalau harga bahan naik, kami tidak langsung menaikkan harga jual. Biasanya margin keuntungan yang kami kurangi dulu. Yang penting usaha tetap berjalan dan pelanggan tetap datang,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (29/6).

Pemilihan Sistem Keuangan Terpisah

Sebelumnya Mumun mencampur keuangan pribadi dan usaha, sehingga pencatatan arus kas menjadi kurang rapi. Kondisi itu berubah setelah mulai menggunakan Saku Bisnis Bank Raya, yang memungkinkan pemisahan dana operasional, pembayaran pemasok, dan alokasi untuk pengembangan usaha.

“Dulu uang usaha sama uang pribadi masih tercampur. Setelah menggunakan Bank Raya, sekarang bisa dipisahkan sehingga lebih mudah mengatur keuangan usaha,” kata Mumun.

Efisiensi Operasional dan Digitalisasi Pembayaran

Digitalisasi turut mempermudah operasional warung yang mempekerjakan sekitar 20 karyawan. Proses pembayaran gaji kini dilakukan lewat aplikasi perbankan sehingga tidak lagi membagikan uang tunai satu per satu.

“Kalau dulu harus membagikan uang satu per satu. Sekarang tinggal transfer ke masing-masing karyawan, jadi jauh lebih mudah,” ujar Mumun.

Transaksi pelanggan juga didominasi pembayaran digital melalui QRIS Bisnis dan transfer. Menurut Mumun, penggunaan QRIS mempercepat proses pembayaran, mengurangi penggunaan tunai, dan membantu pencatatan transaksi harian.

Alasan Memilih Layanan Perbankan Digital

Mumun menyebut memilih layanan perbankan ini karena mencari kemudahan transaksi digital tanpa beban biaya administrasi yang memberatkan usaha kecil. Ia mulai menggunakan layanan tersebut pada 2023 untuk mendukung kebutuhan operasional harian.

Melalui Saku Bisnis, berbagai pos keuangan dapat diatur sesuai kebutuhan sehingga arus kas lebih mudah dipantau dan transaksi dapat dilakukan tanpa berpindah aplikasi.

Menjaga Tradisi Sambil Beradaptasi

Warung Betawi H. Muhayar tetap mempertahankan resep warisan keluarga. “Bumbu dari dulu sampai sekarang harus tetap sama. Itu pesan orang tua yang kami pegang sampai sekarang,” kata Mumun. Dalam sehari, rumah makan ini dapat mengolah sekitar 30 kilogram ikan gurame untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Bagi Mumun, keberhasilan usaha yang bertahan hampir lima dekade diukur dari kemampuan mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang, bukan semata keuntungan. Ia mendorong pelaku UMKM lain untuk mulai memanfaatkan layanan digital yang dapat membantu pengelolaan usaha.

“Pelaku UMKM sebaiknya mencoba menggunakan Bank Raya karena banyak kemudahan yang diberikan untuk mendukung usaha,” ujarnya.

Pengalaman warung ini menunjukkan bahwa mempertahankan tradisi tidak selalu bertentangan dengan adopsi teknologi; resep keluarga menjadi kekuatan utama, sementara pemisahan keuangan dan pembayaran digital menjadi fondasi administrasi yang lebih tertata dan efisien.