Detak Media — PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) dan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk kerja sama pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area operasi PTBA. Langkah ini dimaksudkan sebagai bagian dari sinergi kedua perusahaan untuk mempercepat transisi energi nasional sekaligus menciptakan nilai tambah berkelanjutan.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menyebut kerja sama tersebut sebagai momentum strategis, termasuk dalam rangka pelaksanaan proyek PLTS yang tercantum dalam RUPTL 2025-2034. Penandatanganan berlangsung pada Kamis (2/7/2027).
Transformasi Bisnis dan Penguatan Portofolio EBT
Menurut Bambang, kolaborasi ini menjadi “milestone strategis bagi PTBA dalam percepatan transformasi bisnis energi, penguatan portofolio EBT, dan peningkatan kontribusi pendapatan energi masa depan.”
PTBA menyatakan bahwa keberlanjutan tidak hanya soal pengurangan emisi, tetapi juga pemanfaatan sumber daya secara optimal melalui inovasi dan penguasaan teknologi. Upaya ini diarahkan untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Peran Teknologi Dalam Strategi Energi
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, mengungkapkan keyakinannya bahwa “sustainability through technology” menjadi kunci menuju masa depan energi berkelanjutan. Ia menekankan teknologi memungkinkan respons terhadap tantangan lingkungan tanpa mengorbankan ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi.
Turino menambahkan, pandangan PTBA bukanlah meninggalkan batubara sepenuhnya, melainkan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan energi lebih bersih dan efisien sambil mengembangkan energi baru terbarukan sebagai bagian dari portofolio masa depan.
Pengembangan Proyek Hilirisasi dan PLTS
Selain proyek-proyek hilirisasi batubara seperti coal to DME, SNG, dan kalium humat yang disebut memberikan nilai tambah serta mengurangi intensitas emisi, PTBA juga terus memperluas bisnis energi baru terbarukan. Hingga kini, total portofolio PLTS perseroan tercatat mencapai 1,2 MWp.
Melalui pengembangan tersebut, PTBA menargetkan kontribusi nyata dalam pengurangan emisi karbon dan penciptaan ekosistem bisnis hijau yang kompetitif. Perseroan berharap portofolio energi bersih bisa membuka akses ke green funding untuk proyek hilirisasi ke depan.
Pemanfaatan Lahan Pascatambang
Dalam kerja sama dengan Pertamina NRE, PTBA melihat peluang mengoptimalkan aset nasional, termasuk pemanfaatan lahan pascatambang hasil reklamasi sebagai lokasi PLTS dan potensi energi terbarukan lainnya.
Turino menyatakan lahan pascatambang yang telah direklamasi memiliki potensi untuk ditransformasikan menjadi pusat energi hijau. “Salah satu problem PLTS adalah penyediaan lahan, nah di sisi lain kami banyak lahan pascatambang yang direklamasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa setelah reklamasi, kawasan yang sebelumnya dipakai untuk aktivitas tambang dapat diberi fungsi baru sebagai sumber energi bersih yang mendukung target net zero emission Indonesia. Turino juga menyebutkan ketersediaan lebih dari 250 hektare lahan pascatambang yang siap dimanfaatkan.
Sinergi BUMN Untuk Ketahanan Energi
Turino menaruh harapan besar pada kolaborasi PTBA dan Pertamina NRE sebagai contoh sinergi BUMN dalam mempercepat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan teknologi, inovasi, dan optimalisasi aset. Ia percaya kerja sama ini dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
Ikuti Detak Media
