Detak.media — Menjelang musim kemarau, Wilmar memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh unit operasionalnya. Perusahaan menyelenggarakan pelatihan pencegahan karhutla dan apel siaga kebakaran sebagai bagian dari peningkatan kesiapsiagaan.
Program itu juga menekankan kolaborasi dengan pihak luar, termasuk pemerintah daerah, aparat keamanan, dan perwakilan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Pelatihan, Simulasi, dan Apel Siaga
Head Environment, Health, and Safety (EHS) Plantations PT Mustika Sembuluh Novrie Ronaldy menyatakan pencegahan karhutla merupakan komitmen bersama untuk menjaga keselamatan masyarakat, melindungi lingkungan, dan memastikan kelangsungan operasional yang bertanggung jawab.
“Setiap tahun kami terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui pelatihan, perawatan sarana prasarana, simulasi, serta penguatan koordinasi dengan berbagai pihak,” ujar Novrie.
Acara pelatihan dan apel siaga yang baru digelar melibatkan 82 peserta dari perusahaan dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Para peserta melakukan simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan serta latihan koordinasi lapangan.
Kolaborasi Multi-Pihak
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah (camat dan kepala desa), Kepolisian, TNI, serta perwakilan masyarakat setempat. Menurut Novrie, sinergi antarpemangku kepentingan penting karena risiko kebakaran tidak mengenal batas wilayah.
“Kolaborasi menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman, menjaga kelestarian lingkungan, serta meminimalkan risiko kebakaran selama musim kemarau,” kata Novrie.
Partisipasi Dalam Fire Free Alliance
Selain memperkuat kesiapsiagaan internal, Wilmar juga aktif dalam Fire Free Alliance (FFA). Melalui FFA, program pencegahan dilaksanakan tidak hanya di area operasional perusahaan tetapi juga di wilayah sekitar hingga radius 5 kilometer.
Program FFA mencakup edukasi masyarakat, peningkatan kapasitas, dan kolaborasi pencegahan sejak dini.
Risiko Musim Kemarau
Menanggapi potensi kebakaran, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani sebelumnya mengingatkan bahwa kemarau, terutama jika dibarengi fenomena El Nino, dapat meningkatkan risiko karhutla. Puncak kemarau tahun ini diprediksi terjadi pada Agustus-September.
Langkah antisipasi yang disebutkan meliputi pemantauan titik api (hotspot) dan peringatan dini berbasis iklim, patroli terpadu, deteksi dini hotspot di lapangan, intervensi infrastruktur air seperti pembasahan kembali gambut dan pembangunan sekat kanal, penegakan hukum, serta respons cepat berupa kesiapsiagaan pemadaman secara proaktif.
Ikuti Detak.media
