Mobil

Perbandingan Mobil Listrik vs BBM: Biaya Pakainya Bisa Beda 5 Kali Lipat

Iklan

— Perbandingan mobil listrik dan mobil berbahan bakar minyak (BBM) kerap berhenti pada harga beli awal. Di ruang pamer, mobil BBM terlihat jauh lebih murah. Namun ketika biaya operasional, perawatan, insentif pajak, dan dampak emisi dihitung menyeluruh, hasilnya menunjukkan cerita berbeda.

Di segmen entry-level, Wuling Motors memasarkan Wuling Air EV di kisaran sekitar Rp 210 jutaan. Sementara Daihatsu menawarkan Ayla mulai sekitar Rp 140 jutaan.

Selisih harga awal sekitar Rp 70 juta ini sering menjadi alasan utama konsumen memilih mobil BBM. Padahal, biaya pemakaian hariannya jauh berbeda.

Mobil Listrik Kena Pajak Mulai 2026, Ini Rincian Aturan Barunya

Biaya Energi: Selisihnya Lebih dari Lima Kali Lipat

Dengan asumsi konsumsi energi mobil listrik 10 kWh per 100 km dan tarif listrik rumah tangga Rp 1.699 per kWh, biaya energi mobil listrik hanya sekitar Rp 170 per km.

Sebaliknya, mobil BBM dengan konsumsi rata-rata 1 liter per 15 km dan harga bensin Rp 13.000 per liter membutuhkan biaya sekitar Rp 866 per km.

Artinya, biaya energi mobil BBM bisa lebih dari lima kali lipat dibanding mobil listrik untuk jarak tempuh yang sama.

Jika diasumsikan jarak tempuh 15.000 km per tahun, selisih biaya energi saja bisa mencapai lebih dari Rp 10 juta per tahun.

Perawatan Rutin: Mobil Listrik Lebih Sederhana

Mobil listrik tidak memerlukan penggantian oli mesin, filter udara, busi, atau komponen pembakaran lain. Sistem penggeraknya lebih sederhana dengan komponen bergerak yang jauh lebih sedikit.

Sebaliknya, mobil BBM membutuhkan servis rutin berkala yang biayanya akumulatif dalam jangka panjang, termasuk potensi perbaikan mesin ketika usia kendaraan bertambah.

Sejumlah pemerintah daerah memberikan insentif kendaraan listrik berupa pembebasan atau keringanan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Di beberapa wilayah, tarif PKB mobil listrik bahkan 0 persen.

Kondisi ini membuat total biaya kepemilikan (total cost of ownership/TCO) mobil listrik dalam 5–10 tahun menjadi semakin kompetitif dibanding mobil BBM.

Iklan

Biaya Emisi yang Tidak Pernah Masuk Brosur

Head of Center of Industry, Trade and Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, menilai perbandingan harga mobil listrik dan BBM belum setara karena ada komponen biaya emisi yang tidak tercermin dalam harga jual mobil konvensional.

Emisi kendaraan berbahan bakar fosil berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, hingga kerugian ekonomi nasional.

Studi World Bank mencatat kerugian ekonomi akibat polusi udara di Indonesia dapat mencapai lebih dari 3 persen PDB per tahun. Transportasi menjadi salah satu kontributor utama.

Sementara World Health Organization (WHO) melaporkan polusi udara memicu jutaan kasus penyakit pernapasan dan kematian dini setiap tahun secara global, terutama akibat partikel halus PM2.5 dari emisi kendaraan.

Biaya kesehatan ini pada akhirnya ditanggung masyarakat melalui sistem kesehatan dan anggaran negara.

Indef menilai pasar saat ini belum adil karena mobil BBM tidak menanggung biaya emisi secara langsung. Wacana pengenaan cukai emisi kendaraan bermotor pernah disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 2020.

Tujuannya agar biaya emisi tercermin dalam harga kendaraan berbahan bakar fosil sejak awal pembelian, sehingga konsumen dapat melihat perbandingan biaya yang lebih utuh.

Hitungan Jangka Panjang Lebih Menentukan

Mobil listrik memang lebih mahal di awal. Namun ketika biaya energi, perawatan, insentif pajak, serta dampak ekonomi dari emisi diperhitungkan, mobil listrik terbukti jauh lebih hemat dalam penggunaan jangka panjang.

Besaran Pajak Mobil Listrik Mengikuti Aturan Daerah, Ini Rinciannya

Perbandingan ini menunjukkan bahwa memilih kendaraan seharusnya tidak hanya melihat harga di brosur, melainkan total biaya nyata selama masa kepemilikan.

Iklan

Jangan ketinggalan informasi dan berita terbaru dari Detak.Media. Follow kami di Google News!

Penulis: Catur AriadiEditor: Catur Ariadi