Detak.media — Menteri Transmigrasi RI, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, mendorong pengembangan komoditas unggulan sesuai potensi tiap daerah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Ia menekankan bahwa upaya swasembada pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai tambah dan menjamin kepastian pasar bagi hasil pertanian.
Iftitah menyampaikan hal tersebut saat meninjau demplot pisang Edo Farm yang dikelola Rusli di Sentul, Jawa Barat, Senin (13/07/2026). Demplot itu menjadi contoh pengembangan pisang sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi.
“Arahan Presiden sangat jelas, yaitu mewujudkan swasembada pangan. Beras tentu tetap menjadi komoditas utama, tetapi Indonesia juga memiliki banyak komoditas pangan lain yang potensinya sangat besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan, Senin.
Iftitah menjelaskan pembangunan sektor pertanian perlu diarahkan pada penciptaan nilai tambah. Keberhasilan pengembangan suatu komoditas, menurut dia, tidak cukup hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang diterima petani dan masyarakat.
“Ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Kalau petaninya tidak sejahtera, ketahanan pangan tidak akan berkelanjutan,” katanya.
Pisang Sebagai Komoditas Prospektif
Salah satu komoditas yang dinilai memiliki prospek besar adalah pisang. Selain memiliki pasar domestik dan ekspor, tanaman ini dapat dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan transmigrasi.
Iftitah menilai pengembangan pisang dapat mendukung diversifikasi pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Namun, pengembangan harus disertai pembentukan ekosistem usaha dari hulu hingga hilir.
Ekosistem tersebut mencakup penguatan kelembagaan petani melalui koperasi, pengolahan dan penyimpanan hasil panen, penyediaan sistem logistik, serta kepastian pasar melalui kemitraan dengan perusahaan pembeli atau off-taker.
“Kita ingin petani tidak hanya mampu menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga memiliki kepastian pasar. Ketika pasar terbuka, harga menjadi lebih baik, investasi ikut bergerak, pendapatan petani meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” jelas Iftitah.
Rencana Pengembangan dan Kolaborasi
Sebagai langkah awal, Kementerian Transmigrasi tengah menjajaki pengembangan sentra pisang di Lampung. Program ini diharapkan menjadi percontohan pengembangan komoditas berbasis potensi daerah sekaligus menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi.
Kementerian juga memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah daerah. Kolaborasi diarahkan untuk memperkuat riset, inovasi, transfer teknologi, serta pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal.
Melalui kerja sama tersebut, pemerintah berharap dapat membangun model pertanian modern yang produktif, berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu membuka lebih banyak lapangan kerja di kawasan transmigrasi.
Ikuti Detak.media
