Detak.media — Bank Indonesia (BI) mendukung pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang diinisiasi pemerintah dan menilai kehadirannya penting untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal serta mendorong aliran investasi ke dalam negeri. Dukungan itu juga diharapkan memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain PFII, BI menyambut pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai langkah untuk menyatukan pengelolaan ekspor komoditas sumber daya alam dan meningkatkan transparansi perdagangan.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyebutkan salah satu tantangan utama perekonomian Indonesia saat ini berada pada sektor eksternal, terutama karena defisit neraca jasa yang masih membebani neraca pembayaran (balance of payments). Rabu (15/7/2026), Destry menyampaikan hal itu dalam acara Investment Forum 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.
“Memang tantangan terbesar bagi ekonomi kita saat ini ada di sektor eksternal. Selama ini kita sudah mempunyai surplus dalam perdagangan barang, tetapi untuk jasa kita masih defisit. Sehingga hal itu akhirnya mempengaruhi balance of payments kita secara keseluruhan,” kata Destry.
Menurut Destry, pembentukan PFII merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi eksternal Indonesia. Kawasan tersebut diharapkan tidak hanya membantu memperbaiki neraca pembayaran, tetapi juga menarik lebih banyak arus modal (capital inflow), baik dalam bentuk investasi portofolio maupun investasi langsung (foreign direct investment/FDI) ke sektor riil.
Destry menilai investasi yang masuk ke sektor riil akan memberikan manfaat jangka panjang karena mampu menciptakan aktivitas ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Kalau investasi masuk ke sektor riil, tentu sifatnya jangka panjang dan akan memberikan keyakinan yang lebih besar terhadap perekonomian kita. Dana tersebut akan benar-benar bergerak dan berputar di sektor riil,” ujar Destry.
Selain mendukung pembentukan PFII, BI juga menyambut baik pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai upaya pemerintah menyatukan pengelolaan ekspor komoditas sumber daya alam Indonesia.
Destry menyatakan langkah tersebut berpotensi memperbaiki tata kelola perdagangan komoditas nasional, termasuk meminimalkan praktik under-invoicing dan transfer pricing yang selama ini menjadi tantangan dalam perdagangan internasional.
BI juga berharap pembentukan DSI, yang nantinya didukung keberadaan bursa mineral, dapat meningkatkan transparansi harga dan transaksi perdagangan sumber daya alam.
“Dengan adanya DSI, apalagi jika didukung oleh bursa mineral, saya rasa itu akan sangat baik karena transparansi harga akan langsung tercermin. Sama seperti di bursa efek, (dengan adanya bursa mineral) harga akan langsung terlihat, berapa harga yang di-quote, transaksi terjadi saat itu juga, dan jumlah kuantitasnya juga jelas,” kata Destry.
Ikuti Detak.media
