Detak.media — Bank Indonesia (BI) menyatakan arus modal asing keluar (capital outflow) terjadi dalam jumlah besar pada kuartal I-2026. Tekanan itu dipicu oleh tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia.
Untuk meredam gejolak pasar dan menstabilkan nilai tukar rupiah, bank sentral menaikkan suku bunga acuan serta mendorong repricing instrumen keuangan domestik.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kebijakan moneter yang ditempuh, termasuk kenaikan BI-Rate dan upaya membuat aset domestik kembali menarik bagi investor.
Menurut Destry, tekanan pada pasar keuangan domestik tidak hanya datang dari kondisi global, tetapi juga karena peningkatan risk premium Indonesia yang membuat investor asing menarik dananya, khususnya dari pasar saham.
“Dalam kondisi ketidakpastian global yang sangat tinggi, kita memang terjadi outflow besar sampai kuartal pertama. Khususnya kalau kita lihat dari saham memang masih banyak terjadi outflow sampai saat ini,” ungkap Destry dalam acara Investment Forum CNBC di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Destry menjelaskan langkah BI meliputi kenaikan BI-Rate serta mendorong repricing berbagai instrumen investasi, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), agar aset keuangan domestik kembali menarik bagi investor.
Menurut catatan BI, tindakan tersebut bersifat cepat, jangka pendek, dan temporer untuk meredam gejolak pasar di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
Destry mengungkapkan kebijakan yang ditempuh mulai menunjukkan hasil. Setelah mengalami arus keluar modal pada awal tahun, investor asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik sejak Juni.
Secara kumulatif, BI mencatat arus modal asing yang masuk ke SBN telah mencapai Rp17,7 triliun setelah sebelumnya mengalami outflow pada kuartal I-2026.
BI menilai langkah front loading melalui kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan pasar sekaligus mengendalikan ekspektasi pelaku ekonomi.
Selain menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan itu juga dimaksudkan sebagai antisipasi terhadap potensi tekanan inflasi ke depan, terutama yang bersumber dari kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food) akibat faktor cuaca.
“Kita tunjukkan ini adalah front loading yang kita lakukan, termasuk mengantisipasi jika nanti terjadi tekanan inflasi karena volatile food dan faktor cuaca,” pungkas Destry.
Ikuti Detak.media
