— Katarak tetap menjadi penyebab utama kebutaan di Indonesia, terutama pada kelompok usia 50 tahun ke atas. Salah satu gejala umum yang harus diwaspadai adalah sensitivitas terhadap cahaya atau silau dan kesulitan melihat pada malam hari.

Kondisi ini terjadi saat lensa alami mata mengalami kekeruhan sehingga cahaya tidak masuk optimal, menyebabkan penglihatan buram, warna tampak pudar, dan terganggunya aktivitas sehari-hari.

“Katarak merupakan kondisi ketika lensa alami mata mengalami kekeruhan, sehingga cahaya sulit masuk dengan optimal dan penglihatan menjadi buram,” jelas Kepala Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto Dr Kukuh Prasetyo, SpM, ChM, (Hon.)FIOF dalam keterangan tertulis.

Penjelasan itu disampaikan oleh Dr Kukuh saat kegiatan operasi gratis Bakti Katarak yang diselenggarakan oleh JEC Eye Hospitals and Clinics melalui Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto dalam rangka Bulan Bakti PERDAMI (Persatuan Dokter Mata Indonesia) 2026.

Menurut Dr Kukuh, gejala katarak umumnya berkembang secara bertahap. Awalnya pasien mungkin merasakan pandangan berkabut, kemudian warna mulai tampak pudar, diikuti peningkatan sensitifitas terhadap cahaya atau silau, serta kesulitan melihat pada malam hari yang mengganggu kemampuan membaca dan beraktivitas.

Kondisi katarak biasanya terkait proses penuaan, namun faktor lain juga berperan seperti riwayat cedera mata, diabetes, penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang, paparan sinar ultraviolet, hingga faktor bawaan.

Di Indonesia, katarak tercatat sebagai penyebab utama kebutaan. Merujuk hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness atau RAAB 2014-2016 yang dilakukan PERDAMI dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI di 15 provinsi, angka kebutaan pada populasi usia 50 tahun ke atas mencapai 3%, dengan katarak sebagai penyebab tertinggi, yaitu sekitar 81,2% kasus kebutaan.

Katarak bukan hanya persoalan medis; dampaknya meluas ke kualitas hidup, kemandirian, produktivitas, serta kemampuan menjalani kegiatan sehari-hari. Meski begitu, kebutaan akibat katarak pada dasarnya dapat dicegah dan ditangani melalui pemeriksaan serta tindakan operasi yang tepat.

“Dalam operasi katarak, lensa mata yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa buatan atau intraocular lens (IOL), sehingga pasien dapat kembali memperoleh kualitas penglihatan yang lebih baik. Seiring perkembangan teknologi, penanganan katarak kini juga semakin presisi dan personal, dengan berbagai pilihan metode tindakan serta lensa tanam yang dapat disesuaikan dengan kondisi mata dan kebutuhan aktivitas pasien,” ujar dr Kukuh.

Program Bakti Sosial Operasi Katarak yang dijalankan Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto mencakup rangkaian layanan lengkap: pendataan dan skrining calon pasien, pemeriksaan kondisi mata, pemeriksaan penunjang untuk memastikan kesiapan medis, tindakan operasi bagi pasien yang memenuhi kriteria, serta kontrol pasca operasi.

Pelaksanaan Bakti Sosial Operasi Katarak di Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto berlangsung pada 7-9 Juli 2026. Berdasarkan surat edaran kegiatan, program ini mencakup proses skrining calon pasien, pemeriksaan penunjang, tindakan operasi katarak bagi pasien yang memenuhi kriteria medis, serta kontrol H+7 pasca operasi sesuai standar pelayanan.

Melalui kegiatan tersebut, klinik berharap membantu masyarakat yang mengalami hambatan penglihatan akibat katarak agar dapat kembali mandiri dalam beraktivitas. Bagi banyak pasien, pemulihan penglihatan berdampak langsung pada kemampuan membaca, bekerja, beribadah, mengenali wajah keluarga, bepergian dengan lebih aman, dan kembali berpartisipasi dalam lingkungan sosial.

“Karena itu, kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk menekan angka kebutaan yang dapat dicegah sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata dr Kukuh.