Detak Media — Indonesia Investment Authority (INA) melaporkan realisasi investasi sekitar Rp 74,5 triliun (sekitar US$ 4,7 miliar) pada tahun kelima operasionalnya. Penyaluran modal oleh INA tercatat sebesar Rp 33,3 triliun (sekitar US$ 2,1 miliar) dengan kontribusi pada penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 41,2 triliun (sekitar US$ 2,6 miliar).
INA juga mencatat kenaikan Assets Under Management (AUM) menjadi Rp 146,2 triliun (sekitar US$ 9,1 miliar), atau 1,9 kali lipat dibandingkan saat awal berdiri. Pencapaian ini, menurut pejabat INA, mencerminkan kepercayaan investor global terhadap peluang investasi di Indonesia.
Pesan Pimpinan
Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, menyatakan bahwa perjalanan lima tahun organisasi itu menunjukkan kepercayaan investor global yang berujung pada investasi jangka panjang di berbagai sektor strategis. “Di tengah kompleksitas global, INA tetap berfokus pada tata kelola yang baik, penciptaan nilai jangka panjang, serta praktik investasi yang disiplin,” ujarnya.
Oki menambahkan INA akan memperkuat kemitraan investasi, menghubungkan modal jangka panjang dengan peluang strategis, serta mendukung pembangunan ekonomi melalui investasi berkelanjutan.
Strategi Investasi 2025
INA menjalankan strategi investasi pada 2025 melalui tiga pendekatan utama. Pertama, meningkatkan porsi investasi pada lima sektor prioritas: transportasi dan logistik; energi hijau; digital dan AI; kesehatan; serta advanced materials.
Kedua, organisasi melanjutkan penyesuaian portofolio menuju kelas aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, termasuk private equity, real estate, dan hybrid capital. Ketiga, memperluas akses ke peluang global melalui struktur investasi tidak langsung dan kerja sama dengan mitra strategis.
Alokasi Sektor dan Proyek Utama
Sektor transportasi dan logistik tetap menjadi alokasi kumulatif terbesar INA, mencapai 44,0% dari portofolio. Sektor digital dan AI menyumbang 29,5% dari alokasi kumulatif, meliputi investasi pada menara telekomunikasi, infrastruktur serat optik, dan pusat data hyperscale.
Investasi dalam sektor digital termasuk kepemilikan pada salah satu operator menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 40.000 menara di seluruh Indonesia. Pada sektor energi hijau, INA mendukung pengembangan portofolio panas bumi dengan produksi listrik bersih sekitar 395 GWh per bulan.
Di bidang kesehatan, dukungan investasi mencakup pengembangan jaringan rumah sakit, platform farmasi ritel terbesar di Indonesia, serta fasilitas fraksionasi plasma darah pertama di negara ini yang disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas pemrosesan diproyeksikan mencapai 600.000 liter per tahun.
Pada sektor advanced materials, INA mendukung pembangunan salah satu platform produksi katoda Lithium Iron Phosphate (LFP) terbesar di luar China. Platform ini mencapai kapasitas produksi tahunan sebesar 30.000 ton pada 2025, dengan tambahan kapasitas masing-masing 110.000 ton dan 120.000 ton yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 dan 2027.
Komitmen Mitra Internasional
INA mengungkapkan telah memperoleh komitmen investasi sekitar US$ 25 miliar dari 40 mitra strategis yang berasal dari 15 negara. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya memperkuat akses modal jangka panjang bagi proyek-proyek strategis di dalam negeri.
Ikuti Detak Media
