— Para ahli strategi pasar menilai emas mengambil posisi unik sebagai aset cadangan di tengah pergeseran menuju dunia multipolar dan upaya diversifikasi cadangan oleh bank sentral.

Menurut para pengamat, peran emas berkembang dari sekadar lindung nilai inflasi menjadi alat lindung nilai moneter dan aset cadangan yang netral secara politik.

Paul Wong, mitra pengelola dan ahli strategi pasar di Sprott Inc, menyampaikan pandangannya mengenai posisi emas dalam kerangka geopolitik dan keuangan global.

“Dolar AS mungkin tetap dominan dalam cadangan dan pendanaan sementara mata uang lain mendapatkan pengaruh dalam perdagangan, mata uang regional menjadi lebih penting, dan emas bertindak sebagai aset cadangan netral di antara berbagai blok yang bersaing. Oleh karena itu, para pengelola cadangan tampaknya fokus pada diversifikasi. Emas menempati posisi unik dalam kerangka kerja yang berkembang ini karena posisinya di luar sistem keuangan,” ungkap Paul Wong.

Wong menegaskan perbedaan karakter emas dibandingkan instrumen keuangan lainnya.

“Tidak seperti mata uang negara, emas tidak memiliki afiliasi politik. Tidak seperti obligasi pemerintah, emas tidak memiliki risiko pihak lawan. Tidak seperti deposito bank, emas tidak dapat dibekukan atau dikenai sanksi jika disimpan di dalam negeri,” imbuhnya.

Menurut Wong, tren diversifikasi cadangan memperkuat posisi emas, terutama saat ketegangan geopolitik meningkat.

“Perannya secara bertahap berkembang dari lindung nilai inflasi menjadi lindung nilai moneter, aset cadangan, dan berpotensi menjadi bentuk jaminan moneter,” katanya.

Wong mengutip data masa lalu untuk menggambarkan pergeseran komposisi cadangan global.

Paul Wong mencatat, sebelum konflik Rusia-Ukraina pecah, data IMF menunjukkan rata-rata cadangan emas mencapai 12% dari total cadangan dunia sejak tahun 2000 silam.

“Sejak pembekuan atau penyitaan cadangan devisa Rusia dan meningkatnya kekhawatiran akan penurunan nilai mata uang global dan obligasi pemerintah, cadangan emas sebagai persentase dari total cadangan dunia telah melonjak ke level tertinggi baru sekitar 34%,” bebernya.

Wong juga membahas fenomena penurunan harga emas di tengah krisis keuangan dan kebutuhan likuiditas.

Selain itu, Paul Wong juga mengeksplorasi alasan yang tidak lazim terjadinya penurunan harga emas selama krisis keuangan dan likuiditas.

“Selama periode tekanan pendanaan yang akut, pelaku pasar membutuhkan dolar AS. Untuk mendapatkan dolar tersebut, mereka sering menjual aset mereka yang paling likuid. Emas, sebagai salah satu aset cadangan yang paling likuid dan diincar di dunia, sering berfungsi sebagai sumber likuiditas. Tren ini terjadi selama krisis keuangan 2008 dan guncangan pandemi Maret 2020, dan dapat terjadi lagi selama krisis dolar di masa mendatang. Namun tren ini bukan kegagalan bagi emas. Ini adalah emas yang menjalankan fungsinya sebagai cadangan (aset),” paparnya.

Meski demikian, pergerakan harga emas jangka pendek masih berkaitan erat dengan dolar AS, menurut Wong.

Ia menambahkan, meskipun emas terus unggul sebagai aset cadangan, pergerakan harga jangka pendek logam mulia tetap bergantung pada dolar AS.

“Dalam jangka panjang, emas dan dolar AS dapat naik karena alasan yang sangat berbeda: emas mencerminkan meningkatnya permintaan akan aset cadangan netral dan penyimpan nilai, dan dolar mencerminkan peran sentralnya dalam sistem keuangan global,” katanya.