— Ahli strategi investasi menilai koreksi harga emas baru-baru ini tidak secara signifikan melemahkan prospek investasi emas dalam jangka panjang. Sebaliknya, koreksi dianggap mengurangi kelebihan spekulatif sekaligus mempertahankan sumber permintaan terkuat di pasar.

Direktur Strategi Investasi di Abrdn, Robert Minter, mengatakan pasar emas tidak mengalami perubahan struktural yang merugikan dan justru melihat pengurangan posisi beli sebagai hal positif.

“Saya rasa tidak ada yang secara struktural merugikan pasar emas. Saya melihat pengurangan posisi beli sebagai hal yang positif,” ungkap Direktur Strategi Investasi di Abrdn, Robert Minter, Selasa (14/7/2026).

Menurut Minter, pelemahan harga baru-baru ini lebih mencerminkan faktor teknis ketimbang penurunan fundamental. Ia menunjuk pada langkah China terhadap perdagangan logam mulia dengan leverage, pelepasan posisi spekulatif, dan perubahan arus investasi ritel yang telah membebani harga selama beberapa bulan terakhir.

Minter menilai meski faktor-faktor tersebut menimbulkan volatilitas jangka pendek, tren itu menempatkan pasar emas pada posisi yang lebih sehat. Ia menekankan bahwa peran emas kini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Jelas, emas merupakan aset yang secara struktural lebih penting daripada sebelumnya,” kata Minter.

Keyakinan itu diperkuat oleh permintaan emas yang terus berlanjut di antara bank-bank sentral global. Minter mencatat bahwa bank sentral China memanfaatkan tren koreksi harga baru-baru ini untuk menambah 15 ton emas ke cadangan devisa.

Alih-alih memandang penurunan harga sebagai tanda peringatan, Minter mengatakan banyak investor profesional melihat koreksi harga emas ke level US$ 4.000 sebagai peluang untuk meningkatkan alokasi.

“Mereka melihat level harga di US$ 4.000 sebagai, ‘Berapa level yang tepat bagi saya untuk membeli lebih banyak emas?'” imbuhnya.

Ia juga menyoroti bahwa risiko utama di pasar emas adalah risiko mata uang, namun menegaskan posisi unik emas dalam sistem moneter global.

“Saya pikir risiko utama di pasar (emas) adalah risiko mata uang. Namun Emas terus menjadi satu-satunya mata uang yang bukan utang negara lain,” beber Minter.

Dengan beban utang yang diperkirakan akan terus meningkat di negara-negara maju dan bank sentral yang terus melakukan diversifikasi cadangan, Minter menyatakan peran emas telah berkembang. Menurutnya, emas kini berfungsi lebih dari sekadar lindung nilai inflasi tradisional; ia telah menjadi aset moneter inti.