Detak.media — Harga emas diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai tren bearish masih mendominasi karena belum ada sinyal teknikal maupun fundamental yang cukup kuat untuk membalikkan arah menjadi bullish.
Pada saat berita ditulis, harga emas tercatat turun 0,58% ke level US$ 4.028,93 per ons troi. Geraldo mengatakan pergerakan di bawah area resistance utama menjadi batas bagi potensi kenaikan.
Geraldo menjelaskan, “Selama harga emas masih bergerak di bawah area resistance utama di kisaran US$ 4.102-4.179 per ons troi, peluang penguatan masih terbatas. Sebaliknya, harga berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support di level US$ 3.873 – 3.981 per ons troi.”
Dia menambahkan, “Selama harga belum mampu menembus resistance tersebut secara konsisten, peluang perubahan tren ke arah bullish masih relatif kecil. Kenaikan yang terjadi sejauh ini masih berpotensi hanya menjadi koreksi teknikal.”
Teknikal Menunjuk Tren Bearish
Dari sisi teknikal, Geraldo menegaskan bahwa pergerakan emas pada grafik harian masih berada dalam primary bearish trend. Harga juga masih bergerak di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan MA 34, yang kini berfungsi sebagai resistance dinamis dan membatasi ruang kenaikan.
Selain itu, indikator Stochastic Oscillator juga belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang valid. Kondisi tersebut mengindikasikan momentum jual masih lebih dominan dibandingkan potensi penguatan.
Geraldo menyatakan, “Dengan kombinasi indikator tersebut, harga emas masih berpeluang menguji support di level US$ 3.981 per ons troi. Jika tekanan jual berlanjut, harga diperkirakan dapat turun hingga area US$ 3.873 per ons troi.”
Dolar AS Masih Jadi Penekan
Selain faktor teknikal, Geraldo menilai sentimen fundamental juga masih membatasi kenaikan harga emas. Salah satu faktor utama adalah masih kuatnya dolar Amerika Serikat (AS) di tengah ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar dan obligasi pemerintah AS tetap menjadi pilihan investor karena menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan yield.
“Selama prospek kebijakan moneter AS belum berubah dan dolar masih kuat, tekanan terhadap harga emas diperkirakan tetap bertahan. Penguatan yang terjadi kemungkinan hanya bersifat sementara sebagai koreksi teknikal,” kata Geraldo.
Geraldo mengingatkan pelaku pasar tetap mencermati sejumlah katalis yang dapat mengubah arah pergerakan emas, seperti rilis data inflasi AS, laporan ketenagakerjaan, pernyataan pejabat The Fed, hingga perkembangan geopolitik global.
Apabila data ekonomi AS melemah atau risiko geopolitik meningkat, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berpotensi kembali menguat dan menahan laju penurunan harga.
“Namun untuk saat ini, kami masih mempertahankan proyeksi bearish dengan target support di kisaran US$ 3.873-3.981 per ons troi, selama harga belum mampu ditutup di atas area resistance US$ 4.102-4.179 per ons troi,” tutup Geraldo.
Ikuti Detak.media
