— Harga emas dunia naik tajam pada perdagangan Selasa (14/7/2026) waktu New York, melonjak lebih dari 1% setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan. Pelemahan inflasi menimbulkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed dan menekan indeks dolar AS.

Gold spot ditutup naik 1,3% menjadi US$ 4.052,96 per ons troi, meski sempat mencatat level terendah sejak 1 Juli pada awal perdagangan. Kontrak berjangka emas AS berakhir hampir stabil di US$ 4.058,3 per ons troi.

Penguatan logam mulia juga mendapat dorongan dari pelemahan dolar AS sebesar 0,6%, yang membuat emas relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga meningkatkan permintaan.

“Harga Emas melesat setelah laporan inflasi konsumen (CPI) yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Inflasi inti juga tidak berubah dibanding bulan sebelumnya, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Juli maupun September diperkirakan turun tajam,” kata analis logam independen Tai Wong.

Data Inflasi AS dan Reaksi Pasar

Data resmi menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih tajam dari perkiraan pada Juni. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 3,5% secara tahunan, turun dari 4,2% pada Mei. Inflasi inti (core CPI) tercatat stagnan setelah bulan Mei sempat meningkat 0,2%.

Merespons angka tersebut, pelaku pasar mengurangi probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada rapat kebijakan 28-29 Juli mendatang. Saat ini pasar juga mengalihkan perhatian ke rilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan pada Rabu (16/7/2026) sebagai indikator tambahan arah inflasi dan kebijakan suku bunga.

Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh dalam kesaksiannya di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral adalah mengembalikan inflasi ke target 2%.

Ketegangan Timur Tengah dan Dampak Energi

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pasar komoditas. Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania, dan AS membalas dengan penggempuran sejumlah target Iran selama hampir lima jam terkait perebutan kendali Selat Hormuz.

Konflik tersebut mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam empat pekan, yang berpotensi menambah tekanan inflasi global melalui kenaikan harga energi.

“Jika ketegangan dengan Iran terus berlanjut, inflasi berpotensi meningkat lagi bulan ini. Reli emas kemungkinan terbatas hingga kisaran US$4.200 per ons troi dalam beberapa sesi ke depan,” ujarnya.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lain juga menguat pada perdagangan tersebut. Harga perak spot melesat 1,82% menjadi US$ 58,71 per ons. Platinum naik 1,78% ke US$ 1.632,65 per ons, sedangkan paladium melonjak 4,31% menjadi US$ 1.306,85 per ons.