Detak.media — Harga emas kembali menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026) setelah sebelumnya tertekan hingga mencapai level terendah dalam dua minggu. Kebangkitan logam mulia itu terjadi saat pelaku pasar menantikan rilis data inflasi AS dan merespons eskalasi ketegangan antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak dunia naik.
Di pasar spot, harga emas naik 0,6% menjadi US$ 4.023,77 per ons pada pukul 07.47 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah sejak 1 Juli 2026 di level US$ 3.983,29.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga menguat 0,6% ke posisi US$ 4.030,30.
Pergerakan Terbaru dan Pemicu Penurunan
Pada sesi perdagangan sebelumnya, emas sempat rontok sekitar 3%, menandai penurunan persentase harian terbesar dalam lebih dari sebulan. Kerontokan tersebut dipicu oleh pecahnya pertempuran lanjutan antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam satu bulan.
Menanti Data Inflasi dan Kebijakan The Fed
Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai aset aman (safe haven) pelindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga acuan yang agresif cenderung membebani logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding) ini. Sebab, suku bunga tinggi membuat aset-aset yang menawarkan bunga menjadi jauh lebih menarik bagi investor.
“Saat ini pasar tampaknya memilih bermain aman. Ada serangkaian risiko besar di depan mereka. Selain berita utama dari Timur Tengah, ada testimoni dari Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang sangat dinantikan,” kata Kepala Makro Global di Tastylive Ilya Spivak.
Para investor kini fokus mencermati data CPI AS Juni yang dijadwalkan rilis hari ini untuk mencari petunjuk baru mengenai arah inflasi. Selain itu, data Indeks Harga Produsen (PPI) serta testimoni setengah tahunan perdana Ketua Dewan Gubernur The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres minggu ini juga menjadi perhatian utama.
Sebelumnya, Gubernur The Fed Christopher Waller pada Senin (13/7/2026) menyatakan bank sentral AS tersebut kemungkinan perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat jika data yang masuk menunjukkan inflasi tetap bertahan jauh di atas target 2%.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, para pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September 2026 telah melonjak menjadi sekitar 76%, naik signifikan dari posisi minggu lalu yang hanya sebesar 57%.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Sama seperti emas, harga perak di pasar spot juga merangkak naik 0,6% menjadi US$ 57,99 per ons setelah sempat menyentuh level terendah dua pekan.
Di sisi lain, platinum justru melemah 0,3% ke posisi US$ 1.600,24, sementara paladium melonjak hingga 1,9% ke level US$ 1.269,98.
Dinamika Pasar dan Implikasi
Dinamika yang terjadi pada pasar emas saat ini mencerminkan pusaran besar yang mengayunkan sentimen investor global sepanjang 2026. Konflik militer terbuka yang kembali pecah antara AS dan Iran telah mengganggu stabilitas geopolitik global secara masif.
Konflik ini berpusat di dekat jalur perdagangan energi vital Timur Tengah, sehingga harga minyak mentah dunia langsung meroket. Lonjakan harga minyak ini secara otomatis memicu kekhawatiran terjadinya inflasi gelombang kedua global (second-wave inflation), mengingat minyak merupakan komponen biaya utama bagi manufaktur dan transportasi dunia.
Dampak dari ancaman inflasi ini menempatkan emas pada posisi dilematis yang unik. Sebagai safe haven, emas diburu ketika tensi politik memanas. Namun, karena inflasi diproyeksikan melonjak akibat harga minyak, The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh terpaksa meresponsnya dengan bersiap menaikkan suku bunga acuan demi menjinakkan inflasi.
Ekspektasi pengetatan kebijakan moneter inilah yang membatasi daya ledak harga emas, karena investor harus terus menghitung ulang keuntungan memegang emas versus obligasi pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil tinggi di tengah situasi perang.
Ikuti Detak.media
