Detak Media — Harga bitcoin kembali menanjak di atas level US$61.000 pada Kamis (2/7/2026), mencatat kenaikan sekitar 4,1% dalam 24 jam dan menguat dari posisi terendah minggu ini di US$58.200. Lonjakan itu menjadi pijakan terkuat aset kripto tersebut setelah periode pelemahan sebelumnya.
Salah satu pendorong kenaikan adalah pernyataan pejabat Federal Reserve. Ketua Kevin Warsh menyampaikan kepada forum bank sentral di Sintra, Portugal, bahwa risiko inflasi telah menurun—komentar yang menjadi perhatian pasar setelah prospek suku bunga agresif pada bulan Juni memicu arus keluar dari sejumlah ETF bitcoin AS beberapa pekan terakhir.
Di pasar saham Asia, tekanan tetap terasa. Indeks Kospi Korea Selatan terpangkas 7,9% pada hari yang sama setelah dua raksasa semikonduktor, Samsung Electronics dan SK Hynix, kehilangan nilai pasar gabungan sekitar US$290 miliar. Kekhawatiran terhadap prospek bisnis chip kecerdasan buatan tercatat sebagai faktor yang menekan ekuitas regional.
Pergerakan perusahaan teknologi juga menimbulkan perhatian. Rencana salah satu platform besar untuk menjual daya komputasi berlebih kepada pelanggan eksternal kembali memunculkan pertanyaan tentang keseimbangan antara pembangunan infrastruktur AI dan permintaan riil pasar.
Meski tekanan pada saham chip mendorong koreksi di pasar ekuitas Asia, bitcoin berhasil mempertahankan kenaikan pada sesi tersebut setelah sebelumnya mengalami arus keluar modal yang bergeser ke perdagangan terkait AI sepanjang kuartal ini.
“Ini adalah konsolidasi yang cukup berbahaya bagi para pembeli,” kata Kepala Analis Pasar FxPro, Alex Kuptsikevich, pada awal pekan ketika bitcoin sempat tertahan di bawah US$60.000. Ia menambahkan bahwa jika laju turun berlanjut, level sekitar US$40.000 akan menjadi support nyata berikutnya.
Kenaikan ke atas US$61.000 membuka ruang bagi bitcoin untuk menjauh dari titik terendah tersebut, namun satu sesi positif tidak cukup untuk menutup kerugian yang tercatat pada paruh pertama tahun ini.
Faktor penentu selanjutnya yang dinantikan pasar adalah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat mendatang. Data penggajian yang kuat dapat memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, sementara angka yang lemah dapat memicu spekulasi tentang penurunan suku bunga. Hasil laporan itu diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan moneter untuk bulan Juli.
Ikuti Detak Media
