Detak.media — Surat Utang Negara (SUN) masih dipandang prospektif meski suku bunga global tinggi. Imbal hasil (yield) SUN, khususnya tenor 10 tahun yang kini berada di kisaran 7,1%-7,3%, dinilai kompetitif sehingga menarik minat investor, termasuk asing.
Namun para pelaku pasar tetap mencermati sejumlah risiko utama: stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta kredibilitas fiskal pemerintah. Faktor-faktor ini dinilai menentukan keberlanjutan arus modal ke pasar obligasi domestik.
Yield Kompetitif, Tapi Kepercayaan Belum Pulih Sepenuhnya
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan yield SUN tenor 10 tahun saat ini termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara berkembang di Asia. Kondisi ini membuat Indonesia menarik bagi investor asing yang mencari imbal hasil lebih tinggi.
“Kalau melihat kondisi pasar saat ini, yield SUN memang sudah berada pada level yang cukup menarik. Indonesia masih menawarkan salah satu imbal hasil tertinggi di antara negara berkembang di Asia, sehingga wajar kalau investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi,”
Meski demikian, Yusuf menilai arus masuk investor asing lebih mencerminkan pemanfaatan valuasi obligasi yang menurun setelah kenaikan yield beberapa bulan terakhir, bukan pemulihan penuh kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia.
“Arus masuk yang terjadi lebih mencerminkan investor memanfaatkan valuasi yang menarik. Yield yang tinggi pada dasarnya merupakan kompensasi atas meningkatnya risiko, terutama setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah,”
Nilai Tukar dan The Fed Jadi Penentu
Menurut Yusuf, besaran yield bukan satu-satunya pertimbangan bagi investor asing. Stabilitas rupiah menjadi faktor utama karena pelemahan kurs dapat menggerus keuntungan investasi.
“Setinggi apa pun kupon obligasi, keuntungan itu bisa hilang apabila nilai tukar terus melemah. Setelah itu, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan The Fed karena penurunan suku bunga di Amerika Serikat biasanya mendorong arus dana kembali ke pasar negara berkembang,”
Selain itu, kredibilitas fiskal pemerintah, perkembangan neraca perdagangan, prospek peringkat utang, dan proses peninjauan klasifikasi pasar oleh MSCI turut memengaruhi persepsi risiko terhadap aset Indonesia.
Peran Investor Domestik
Yusuf mengatakan struktur pasar obligasi Indonesia kini lebih kuat karena ditopang investor domestik. Porsi kepemilikan asing yang sekitar 12,6% mendorong perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun menjadi penyangga utama penyerapan SUN.
“Ini sebenarnya menjadi kekuatan karena kelompok investor tersebut memiliki kebutuhan yang berkelanjutan terhadap SBN sebagai instrumen investasi yang aman dan likuid,”
Namun kapasitas investor domestik juga terbatas karena mereka harus mengalokasikan dana ke berbagai instrumen lain, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang saat ini menawarkan tingkat imbal hasil kompetitif.
Tantangan Semester II dan Preferensi Tenor
Pemerintah mempercepat penerbitan SBN pada semester I-2026 sebagai bagian dari strategi front loading pembiayaan APBN. Langkah ini membuat pemerintah menerima biaya penerbitan yang lebih tinggi karena yield lelang ikut meningkat.
“Dengan target penerbitan yang masih besar pada semester II, tantangan berikutnya adalah menjaga agar tambahan pasokan SBN tetap dapat diserap pasar tanpa mendorong kenaikan yield yang terlalu tajam,”
Dari sisi preferensi, pasar terbelah. Investor defensif masih memilih obligasi tenor pendek karena risikonya lebih rendah di tengah suku bunga tinggi, sementara investor yang memandang kenaikan suku bunga mendekati puncak mulai melirik SUN tenor 10 tahun untuk potensi capital gain jika yield turun.
Untuk investor ritel, instrumen Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST) disebut tetap menarik karena menawarkan kupon mengambang (floating rate), sehingga memberi perlindungan terhadap potensi kenaikan suku bunga di masa depan.
Ikuti Detak.media
