— Industri pariwisata Indonesia menunjukkan tanda pemulihan hingga Mei 2026, didorong terutama oleh lonjakan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus). Jumlah perjalanan wisnus pada Mei 2026 tercatat mencapai 106,16 juta perjalanan, menandai kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Data Kementerian Pariwisata mencatat perjalanan wisnus pada Mei 2026 naik 8,69% dari 97,67 juta pada Mei 2025. Kenaikan ini terutama dipicu meningkatnya minat masyarakat melakukan perjalanan domestik saat libur nasional dan cuti bersama.

Secara kumulatif, perjalanan wisnus selama Januari–Mei 2026 mencapai 523,22 juta perjalanan, atau naik 2,86% dari 508,67 juta pada periode yang sama tahun 2025.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno menyatakan momentum libur sekolah dan musim panas (“summer holiday”) masih menjadi pendorong utama aktivitas perjalanan baik domestik maupun internasional.

Pauline menilai wisatawan domestik berperan penting menjaga perputaran bisnis pariwisata ketika terjadi tekanan eksternal. Namun, dia menekankan perlunya dukungan agar peran itu optimal, antara lain harga tiket pesawat lebih terjangkau, transportasi publik memadai, serta infrastruktur destinasi yang semakin baik.

“Kalau harga tiket pesawat lebih terjangkau, transportasi publik semakin baik, dan infrastruktur memadai, wisatawan domestik akan semakin mampu menopang industri pariwisata ketika terjadi tekanan geopolitik,” ujar Pauline pada Selasa (14/7/2026).

Pauline juga menilai pelemahan nilai tukar rupiah dapat menjadi peluang menarik lebih banyak wisatawan mancanegara karena biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing. Ia menekankan peluang itu harus diimbangi peningkatan kualitas destinasi.

Menurut Pauline, Indonesia perlu terus memperbaiki fasilitas, meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, serta menghadirkan layanan yang mampu memenuhi ekspektasi wisatawan berkualitas (“quality tourists”). “Beberapa destinasi sebenarnya sudah mampu memberikan pelayanan yang baik. Namun, selalu ada ruang untuk terus meningkatkan kualitas agar pengalaman wisatawan semakin baik,” ucap Pauline.

Pengamat: Pemulihan Belum Sepenuhnya Berkelanjutan

Pengamat pariwisata sekaligus Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari menuturkan sektor pariwisata sempat terpukul pada 2020–2023 akibat pandemi Covid-19 dan mulai pulih pada 2024–2025 seiring normalisasi aktivitas.

Azril menjelaskan laju pemulihan melambat lagi pada 2026 karena berbagai faktor eksternal, seperti eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga avtur, pelemahan rupiah, dan menurunnya daya beli masyarakat. “Akibat kondisi tersebut, banyak wisatawan mancanegara membatalkan kunjungannya ke Indonesia. Kondisi ini memang sedikit terbantu oleh pergerakan wisatawan nusantara, tetapi sifatnya hanya sementara,” ujar dia.

Azril menilai pemulihan yang ditopang wisatawan domestik belum mencerminkan pertumbuhan yang berkelanjutan karena wisatawan asing memberikan kontribusi lebih besar terhadap devisa dan perputaran ekonomi destinasi.

Oleh karena itu, Azril menilai target kunjungan wisatawan mancanegara yang dipatok pemerintah sebesar 16 juta hingga 17,6 juta orang pada 2026 berpotensi sulit tercapai di tengah memburuknya kondisi ekonomi global. “Target tersebut menjadi kurang realistis jika melihat perkembangan situasi ekonomi dunia saat ini,” kata dia.

Azril mendorong pemerintah mengubah paradigma pengukuran keberhasilan sektor pariwisata. Menurutnya, fokus kebijakan jangan hanya mengejar jumlah kunjungan wisman, tetapi juga kualitas dampak ekonomi yang dihasilkan.

Indikator seperti lama tinggal wisatawan (“length of stay”), besaran pengeluaran wisatawan (“tourist spending”), kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB), serta multiplier effect bagi perekonomian daerah dinilai lebih relevan untuk mengukur keberhasilan sektor tersebut.

Wisnus Menopang Ekonomi Lokal, Wisman Mulai Membaik

Aktivitas wisata domestik kembali menjadi penopang utama pemulihan pariwisata nasional. Pemerintah menilai pertumbuhan wisata domestik strategis karena menjadi sumber pergerakan ekonomi yang lebih stabil dibanding wisatawan asing yang dipengaruhi kondisi global.

Perjalanan wisnus yang meningkat berdampak langsung pada sektor transportasi, akomodasi, kuliner, hingga ekonomi kreatif di berbagai daerah. Pemerintah terus mendorong penguatan destinasi agar mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan dan memperbesar dampak ekonomi bagi daerah.

Di sisi lain, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Mei 2026 tercatat mencapai 1,38 juta kunjungan, naik 5,83% dari 1,31 juta pada Mei 2025. Secara total, kunjungan wisman Januari–Mei 2026 mencapai 6,07 juta kunjungan atau tumbuh 7,68% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan wisman terutama ditopang pasar Asia Tenggara yang naik 11,06% menjadi 608.076 kunjungan pada Mei 2026. Selain itu, peningkatan juga datang dari pasar Timur Tengah, Asia lainnya, Oseania, Afrika, dan Amerika.

Namun, pasar Eropa masih tertekan dengan penurunan 5,91% akibat ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini mendorong pemerintah memperkuat strategi pengembangan pasar jarak dekat (“short-haul”) dan menengah (“medium-haul”), sembari tetap menjaga pasar jarak jauh yang memiliki potensi belanja wisatawan lebih besar.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan perjalanan wisnus masih menjadi motor utama pergerakan pariwisata di tengah meningkatnya kunjungan wisman. “Capaian ini menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia memiliki daya tahan sekaligus tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting,” ujar dia.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menambahkan pemulihan sektor akomodasi tercermin dari meningkatnya tingkat okupansi hotel berbintang. Pada Mei 2026, okupansi hotel mencapai 50,76%, naik 2,48 poin persentase dibanding Mei 2025 yang 48,28%.

Secara kumulatif Januari–Mei 2026, tingkat okupansi hotel berbintang mencapai 46,99%, meningkat 2,14 poin persentase dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 44,85%. “Okupansi hotel yang membaik menjadi sinyal positif bagi ekosistem pariwisata karena berhubungan langsung dengan pergerakan wisatawan, pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi pendukung di destinasi,” kata Ni Luh Puspa.