— Konten media sosial menampilkan “trader sukses muda” dengan rumah mewah, mobil, dan tumpukan uang menjadi trik pemasaran yang marak. Gaya pamer kekayaan itu dimaksudkan untuk meyakinkan calon investor bahwa bergabung dengan mereka merupakan jalan singkat menuju kekayaan.

Trader profesional Ahmad Darowardy memperingatkan pola ini efektif menarik generasi muda, terutama Gen Z, yang rentan merasa tertinggal jika rekan sebayanya tampak lebih berhasil. Tanpa literasi keuangan memadai, mereka mudah menerima iklan secara mentah.

Aturan Iklan dan Sertifikasi

Menurut Ahmad Darowardy, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah menetapkan koridor jelas terkait siapa yang boleh menawarkan produk berjangka dan jasa terkait seperti pelatihan, kelas, penjualan EA/indikator trading, serta rekomendasi pialang.

“Orang yang menawarkan produk berjangka, membuka jasa seperti pelatihan, kelas, jualan EA/Indikator trading, merekomendasikan pialang tertentu membutuhkan izin resmi atau memiliki sertifikasi supaya tidak asal memberikan iklan yang menyesatkan,”

Ia menegaskan sertifikasi tersebut juga mengatur cara beriklan yang benar: menjelaskan risiko trading, menyampaikan potensi keuntungan, dan memberi informasi tentang upaya meminimalisir kerugian — bukan sekadar memamerkan gaya hidup mewah.

Peralihan Dari Binary ke Forex

Ahmad mengamati adanya pergeseran pelaku pemasaran dari trading binary ke trading forex setelah penindakan terhadap investasi mencurigakan. Praktik pemasaran yang tetap mengandalkan flexing kekayaan dinilai berbahaya karena dapat merusak reputasi industri trading forex.

“Bisa kita lihat dari gaya iklannya masih sama yaitu suka flexing kekayaan dan kemewahan untuk menarik orang join dengan mereka dan ini berbahaya bagi industri trading forex karena setelah binary diblokir bisa jadi kedepannya forex bisa diblokir juga karena ulah mereka,”

Peringatan Untuk Calon Investor

Ahmad mengimbau masyarakat, khususnya Gen Z, untuk berhati-hati terhadap iklan yang menonjolkan kemewahan. Ia menekankan bahwa tampilan mewah dalam iklan bisa disewa atau disponsori broker, sehingga tidak mencerminkan jaminan keberhasilan.

Ahmad Darowardy, yang juga dikenal sebagai Ardy CEO Trader, berkisah bahwa ia belajar trading secara otodidak sejak 2009 dan berkarir sebagai trader institusi sejak 2014. Ia aktif membagikan pengalaman dan pengetahuan tentang trading di akun TikTok pribadinya ardy_ceo_trader yang memiliki hampir 65.000 pengikut.