— Pergeseran peta industri nasional mulai terlihat jelas. Keterbatasan lahan di koridor Bekasi-Karawang, naiknya biaya operasional, dan tuntutan investor akan ekosistem industri yang lengkap membuat perusahaan manufaktur mengalihkan perhatian ke lokasi alternatif, salah satunya Subang, Jawa Barat.

General Manager Sales & Tenant Relations Suryacipta Binawati Dewi mengatakan investor kini tidak sekadar mencari lahan kosong, melainkan kawasan yang sudah menyediakan fasilitas pendukung—logistik, tenaga kerja, hingga konektivitas global—yang semakin sulit didapat di kawasan yang padat.

Pergeseran Strategi Lokasi Industri

Menurut Binawati, pergeseran ini bukan sekadar perpindahan geografis tetapi perubahan strategi pemilihan lokasi produksi. “Kalau sebelumnya industri cukup mencari lahan, sekarang mereka mencari ekosistem yang siap pakai, mulai dari logistik, tenaga kerja, hingga konektivitas global,” ujar Binawati.

Perubahan kebutuhan itu juga dipicu munculnya sektor-sektor baru seperti kendaraan listrik (EV), elektronik, dan pusat data (data center) yang menuntut infrastruktur lebih kompleks, termasuk pasokan energi dan jaringan digital. Model kawasan industri generasi baru beranjak menuju konsep kota industri terintegrasi yang menggabungkan fungsi manufaktur, komersial, dan hunian.

Subang Sebagai Alternatif

Salah satu proyek yang mengusung konsep terintegrasi adalah Subang Smartpolitan yang dikembangkan PT Suryacipta Swadaya, anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Kawasan ini dirancang mengintegrasikan fungsi industri, komersial, dan hunian dalam satu ekosistem.

Keberadaan Pelabuhan Patimban dan akses langsung ke jaringan Tol Trans-Jawa disebut menjadi keunggulan strategis Subang. Faktor-faktor tersebut dinilai dapat menyokong efisiensi rantai pasok dan menarik minat investor manufaktur yang mencari alternatif di luar Bekasi dan Karawang.

Ruang Pengembangan dan Tantangan Kawasan Tua

Kementerian Perindustrian mencatat tingkat okupansi kawasan industri nasional hingga awal tahun ini pada 58,19%, angka yang menunjukkan masih ada ruang pengembangan. Namun, konsentrasi pertumbuhan di wilayah tertentu menyebabkan keterbatasan land bank dan tekanan biaya di kawasan yang lebih matang.

Laporan Colliers International yang dikutip dalam pernyataan menyorot bahwa keterbatasan pasokan lahan di Bekasi dan Karawang mendorong ekspansi ke wilayah baru seperti Purwakarta dan Subang. Pelaku usaha kini mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, akses transportasi, tenaga kerja, dan konektivitas pasar global saat memilih lokasi investasi.

Selain keunggulan infrastruktur, Subang juga dianggap menawarkan struktur biaya yang lebih kompetitif dibandingkan kawasan industri yang sudah berkembang, menjadi pertimbangan penting bagi industri yang menghadapi tekanan efisiensi di tengah persaingan global.