— Perusahaan penimbun Bitcoin Strategy, yang terkait dengan Michael Saylor, memberi otorisasi untuk menjual Bitcoin (BTC) dalam skala lebih besar. Keputusan itu kembali menempatkan sorotan pada fenomena perusahaan penimbun kripto atau crypto hoarding companies di tengah tekanan tajam pada harga aset digital.

Pengumuman akhir bulan lalu tentang pelebaran otorisasi penjualan Bitcoin disertai program pembelian kembali saham—memicu respons positif dari sejumlah analis dan mendorong penguatan tipis harga saham Strategy pada Jumat (10/7/2026). Otorisasi itu mencakup penjualan Bitcoin hingga senilai US$1,25 miliar (sekitar Rp22,5 triliun) dan buyback saham, menurut keterangan yang dirilis pada Senin (13/7/2026).

Saham Strategy sempat melambung pada akhir 2024 hingga sebagian besar 2025, namun bulan lalu menyentuh level terendah dalam dua tahun terakhir. Sepanjang 2026, Strategy tercatat sudah menjual Bitcoin senilai sekitar US$218 juta untuk membiayai dividen dan menambah cadangan dolar AS.

Langkah penjualan ini memunculkan kembali pertanyaan tentang kelangsungan puluhan perusahaan yang meniru model “Kas Aset Digital” (Digital Asset Treasury/DAT). Tren perusahaan DAT pernah menjamur tahun lalu seiring euforia pasar terhadap kebijakan yang mendukung kripto.

Model Bisnis yang Rentan

Perusahaan DAT menawarkan akses bagi investor ke pasar kripto lewat entitas publik yang teregulasi, sekaligus memberi potensi penggandaan keuntungan (leverage). Namun model ini sangat rentan terhadap penurunan harga token.

Saat harga kripto jatuh, nilai aset yang dimiliki perusahaan DAT terkikis, menyulitkan penggalangan dana dan merusak prospek keuntungan berlipat yang menjadi daya tarik utama investor.

Nasib perusahaan-perusahaan ini semakin terpukul seiring merosotnya Bitcoin, yang sepanjang tahun ini anjlok hingga 33%. Penurunan itu terjadi di tengah ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak, dan perubahan kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve) di bawah kepemimpinan baru Kevin Warsh.

Empat Indikator Utama Industri DAT

Berikut empat indikator yang menggambarkan dinamika industri DAT.

1. Kapitalisasi Pasar yang Menyusut

Kapitalisasi pasar perusahaan DAT mencapai puncak pada Juli tahun lalu ketika pasar kripto total menyentuh nilai pasar US$4 triliun. Sejak itu angka tersebut merosot tajam dan mencapai titik terendah pada November setelah likuidasi massal posisi kripto senilai US$19 miliar. Hingga paruh pertama 2026, sektor DAT belum pulih karena kondisi pasar kripto yang lesu.

2. Nilai Aset Terperosok di Bawah Harga Pasar

Tahun lalu banyak perusahaan DAT diperdagangkan dengan premi terhadap nilai aset kripto yang mereka miliki. Investor berharap perusahaan itu memanfaatkan akses pendanaan ekuitas dan utang untuk menambah kepemilikan token.

Namun sejak akhir tahun lalu, rasio market-to-Net Asset Value (mNAV)—perbandingan total nilai pasar perusahaan terhadap nilai aset bersih (NAV) dari kepemilikan kripto—turun di bawah satu. Artinya, perusahaan-perusahaan tersebut kini diperdagangkan dengan diskon dibandingkan nilai aset kripto yang mereka simpan.

Situasi ini krusial karena mayoritas DAT bergantung pada harga saham yang berada di atas NAV untuk menarik investor baru. mNAV milik Strategy jatuh di bawah angka satu untuk pertama kalinya pada akhir bulan lalu. Para eksekutif DAT mengatakan keberhasilan jangka panjang bergantung pada kemampuan mengambil keputusan investasi yang cerdas dan upaya mencari cara baru meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

3. Volume Perdagangan Mingguan Gabungan yang Berfluktuasi

Volume perdagangan mingguan gabungan saham-saham DAT sempat mencapai puncak pada Agustus tahun lalu berdasarkan data penyedia data blockchain Artemis Terminal, tetapi terus berfluktuasi sejak itu. Volume mingguan menyentuh titik terendah pada Februari setelah Bitcoin dan kripto lain merosot pasca-berita nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

Para analis memperkirakan Warsh akan mendorong pengurangan neraca The Fed, yang menjadi angin sakal bagi aset berisiko seperti kripto karena menurunkan likuiditas dalam sistem keuangan.

4. Kepemilikan Token yang Mulai Dilepas

Strategy tetap menjadi pemegang kripto terbesar meski sudah melepas sebagian Bitcoin tahun ini. Posisi kedua ditempati BitMine Immersion Technologies, perusahaan penimbun Ether.

Beberapa perusahaan kas kripto lain juga telah melepas bagian kepemilikan mereka pada 2026. Nakamoto Inc, yang menyebut diri sebagai perusahaan operasional Bitcoin, menjual sekitar 5% kepemilikan Bitcoin pada Maret 2026 dan melepas sekitar 600 Bitcoin lagi pada Juni 2026.

Hingga berita ini diturunkan, semua perusahaan yang disebutkan menolak atau belum menanggapi permintaan komentar.

Asal-Usul dan Risiko Model DAT

Model Digital Asset Treasury (DAT) lahir sebagai jembatan bagi investor institusional yang ingin eksposur terhadap Bitcoin dan aset digital lain tanpa membeli atau menyimpan aset itu langsung melalui bursa kripto yang dianggap memiliki risiko regulasi dan keamanan tinggi.

Dipelopori oleh langkah agresif perusahaan seperti MicroStrategy (Strategy) beberapa tahun lalu, perusahaan-perusahaan ini menggeser neraca kas dari mata uang fiat menjadi aset kripto dalam jumlah besar.

Strategi ini menghasilkan keuntungan besar saat pasar dalam tren naik (bull market), di mana kenaikan harga Bitcoin mendorong kenaikan harga saham jauh melebihi nilai aset dasarnya. Keberhasilan tersebut mendorong gelombang perusahaan tiruan yang meniru model serupa.

Namun model ini menyimpan risiko sistemik. Ketika pasar berbalik menjadi lesu (bear market), struktur penumpukan aset dengan leverage dapat memicu efek bola salju yang menurunkan kapitalisasi pasar secara eksponensial.

Penjualan cadangan Bitcoin oleh pelopor industri seperti Strategy menandai perubahan penting: perusahaan kas kripto kini tidak hanya menimbun, tetapi juga melakukan langkah manajemen risiko untuk menjaga likuiditas operasional di tengah ketatnya kebijakan makroekonomi global.