Detak Media — Deretan toko tutup dan papan “dikontrakkan” di pinggiran Moskow menggambarkan perlambatan ekonomi Rusia yang kian nyata di tengah lonjakan belanja militer. Pengusaha kecil menghadapi kombinasi kenaikan pajak, inflasi yang terus-menerus, dan melemahnya permintaan dari konsumen.
Di Mytishchi, sebuah kota komuter di timur laut Moskow, pemilik apotek berusia 12 tahun mengatakan bisnisnya berada “di ujung tanduk” dan sedang mempertimbangkan penutupan. Ia menyebut peningkatan pajak dan regulasi yang menekan margin keuntungan sebagai penyebab utama kesulitan usahanya.
Lonjakan harga barang dan fluktuasi mata uang merupakan dampak domestik utama dari invasi yang telah memasuki tahun keempat. Rusia juga dihantam paket sanksi ekonomi dari negara-negara Barat yang ikut memperberat kondisi bisnis.
Pada awal konflik, aliran miliaran dolar untuk mendanai operasi militer sempat meredam efek sanksi. Anggaran militer meningkat hingga sekitar 8% dari produk domestik bruto—level tertinggi sejak era Perang Dingin—namun sektor sipil tidak menikmati perlindungan serupa.
Akibatnya, ekonomi Rusia mencatat kontraksi kuartalan pertama dalam tiga tahun pada awal 2026, memberi dampak langsung pada usaha kecil yang tak tersentuh oleh pengucuran dana pertahanan.
Tekanan pada Bisnis Kecil
Di kota seperti Mytishchi, perlambatan diperparah oleh persaingan dari toko daring dan pembatasan penjualan alkohol yang sebelumnya menjadi sumber pendapatan bagi restoran kecil dan toko kelontong.
Alexander Kolyandr, pakar ekonomi, menyatakan ekonomi Rusia sekarang terbagi menjadi dua lapisan: industri pertahanan berbasis negara yang relatif kuat, dan sektor lain yang tertinggal. Di antara kelompok yang merasakan dampak terberat adalah profesional dan wirausahawan kecil yang tidak menerima manfaat dari belanja militer.
Seorang pemilik salon manikur, Zhanna, terpaksa pindah ke studio bersama karena tak lagi mampu menanggung sewa sendiri. Ia melaporkan penurunan jumlah pelanggan dan kenaikan biaya operasional, sehingga klien memilih perawatan yang lebih murah atau menunda layanan sama sekali.
Zhanna juga mengeluhkan serangkaian kenaikan pajak, termasuk PPN dan penghapusan tarif sederhana untuk perusahaan mikro. Tekanan fiskal ini mendorongnya mempertimbangkan sebagian aktivitas di pasar informal untuk menjaga harga terjangkau dan mempertahankan keuntungan.
Pengusaha Jujur di Ambang Tutup
Papan “Toko Tutup” menghiasi kedai daging yang dijalankan Alina bersama suaminya. Usaha yang dibuka sejak 2015 itu kini mencari penyewa baru setelah menurunnya daya beli pelanggan dan lonjakan tagihan pajak yang menurutnya meningkat hingga 15 kali lipat di bawah aturan baru tahun ini.
“Kami selalu membayar pajak dengan jujur dan mematuhi persyaratan. Sekarang mereka tampak ingin menghabisi kami,” kata Alina, menggambarkan dilema yang dihadapi banyak pelaku usaha kecil.
Transformasi ekonomi menjadi ekonomi perang telah mengalihkan sumber daya negara ke industri militer untuk produksi persenjataan dan kompensasi tentara. Kebijakan ini menciptakan ketimpangan antara sektor pertahanan yang mendapat dukungan negara dan sektor sipil yang mengalami penyusutan akses bahan baku, teknologi, dan modal.
Akibat kebijakan fiskal dan moneter—termasuk kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi—biaya modal dan operasional melonjak. Kombinasi faktor ini dan penurunan daya beli pekerja di luar sektor militer membuat banyak usaha kecil sulit bertahan.
Ikuti Detak Media
