— Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 70 poin atau 0,38% sepanjang pekan 6–10 Juli 2026, dari Rp 17.995 menjadi Rp 18.065 per dolar AS.

Fluktuasi mingguan tercatat sejak pembukaan Senin hingga penutupan hari kerja terakhir, dengan tekanan yang meningkat pada sebagian besar hari perdagangan.

Pergerakan Harian

Pada Senin, 6 Juli 2026, rupiah dibuka melemah 32 poin (0,18%) ke Rp 17.995 per dolar AS dan menutup hari pada level yang sama.

Selasa, 7 Juli 2026, rupiah menguat tipis saat dibuka naik 3 poin (0,02%) ke Rp 17.992 per dolar AS dan menutup penguatan 15 poin (0,08%) di Rp 17.980 per dolar AS.

Rabu, 8 Juli 2026, rupiah kembali melemah setelah dibuka turun 7 poin (0,04%) ke Rp 17.987 per dolar AS, lalu tertekan hingga menembus Rp 18.000 dan ditutup pada Rp 18.014 per dolar AS, melemah 34 poin (0,19%).

Kamis, 9 Juli 2026, pelemahan berlanjut saat rupiah dibuka turun 59 poin (0,33%) ke Rp 18.073 per dolar AS dan menutup hari melemah tajam 114 poin (0,63%) di Rp 18.128 per dolar AS.

Pada Jumat, 10 Juli 2026, rupiah kembali menguat; dibuka naik 45 poin (0,25%) ke Rp 18.083 per dolar AS dan menutup penguatan 63 poin (0,35%) di Rp 18.065 per dolar AS.

Proyeksi dan Sentimen

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan tren pelemahan rupiah dapat berlanjut pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.060 – Rp 18.110,” ungkap Ibrahim.

Ibrahim juga memperkirakan pergerakan rupiah pada sepekan mendatang berada di kisaran Rp 17.870–Rp 18.300 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, rupiah masih diliputi sentimen eksternal, termasuk meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah yang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak, serta taruhan pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada 2026.