Detak.media — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 14 Juli 2026. Data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB menunjukkan rupiah dibuka turun 15 poin (0,08%) ke level Rp 18.124 per dolar AS.
Pergerakan ini mengikuti penutupan sebelumnya pada Senin (13/7/2026) ketika rupiah melemah 44 poin (0,24%) ke Rp 18.109 per dolar AS.
Dolar AS tercatat stabil di level 101,27 menjelang rilis data inflasi AS, menurut laporan media internasional. Kondisi ini terjadi di tengah ketegangan antara AS dan Iran di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak.
Mata uang utama lain relatif stabil: euro diperdagangkan di $1,1383 per dolar AS dan poundsterling di $1,3347 per dolar AS. Yen Jepang tercatat di 162,40 per dolar AS, level yang memicu kekhawatiran pasar tentang kemungkinan intervensi dari Bank of Japan (BOJ) karena yen terus merosot ke titik terendah dalam 40 tahun.
Fokus Pasar pada Data Inflasi dan Pernyataan Pembuat Kebijakan
Risiko inflasi menjadi perhatian utama pelaku pasar menjelang rangkaian data ekonomi AS. Data CPI untuk bulan Juni dirilis pada Selasa, diikuti data PPI untuk Juni pada hari berikutnya.
Selain data ekonomi, perhatian juga tertuju pada pernyataan pembuat kebijakan. Disebutkan bahwa ini adalah pernyataan pertama Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres AS. Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan suku bunga perlu dinaikkan dalam waktu dekat jika data menunjukkan inflasi AS tetap jauh di atas target 2% bank sentral.
Ikuti Detak.media
