Detak.media — Pertumbuhan ekonomi China turun tajam menjadi 4,3% secara tahunan pada kuartal April–Juni (kuartal II) 2026. Laporan resmi pemerintah yang dirilis Rabu (15/7/2026) mencatat ini sebagai laju pertumbuhan terlemah dalam lebih dari tiga tahun.
Angka tersebut meleset dari perkiraan analis dan jauh lebih rendah dibanding pertumbuhan 5% pada kuartal I-2026 (Januari–Maret). Perlambatan terjadi meski China mencatat lonjakan ekspor yang didorong demam artificial intelligence (AI) dan permintaan global terhadap kendaraan listrik.
Ekspor Melonjak, Namun Permintaan Domestik Lesu
China sebagian besar mampu meredam dampak ekonomi yang lebih luas dari perang di Iran, walau lonjakan harga energi akibat konflik itu memicu inflasi global. Data bea cukai menunjukkan ekspor China naik 17,6% pada paruh pertama tahun ini dibanding periode sama tahun lalu, dengan kenaikan hingga 27% pada Juni 2026.
Namun kenaikan ekspor tersebut tidak diimbangi oleh perbaikan di pasar domestik. Pengeluaran rumah tangga dan investasi dalam negeri tetap lesu, sehingga dampak positif dari moncernya sektor manufaktur ekspor terbatas.
Ketimpangan Antar-Sektor
Sejumlah ekonom menilai perekonomian China makin tidak seimbang. Dukungan besar-besaran pemerintah dan aliran investasi swasta mengarah pada teknologi perbatasan seperti AI, cip komputer, dan robotika. Sementara itu, manufaktur bernilai rendah dan industri jasa yang menyerap banyak tenaga kerja mengalami kelesuan.
Ekspor produk teknologi tinggi — termasuk kendaraan listrik, cip komputer, dan peralatan elektronik — meningkat signifikan berkat subsidi dan dukungan pemerintah. Para pemimpin China menjadikan pengembangan teknologi canggih sebagai prioritas nasional.
Tahun lalu China mencatat surplus perdagangan global sebesar US$1,2 triliun. Angka ini memicu protes dari pembuat kebijakan di berbagai negara yang mengeluhkan ketimpangan neraca perdagangan. Banyak pihak menuding subsidi besar-besaran pemerintah menciptakan oversupply barang manufaktur yang selanjutnya dibuang ke pasar luar negeri.
Di dalam negeri, ekspansi AI dan robotika yang masif menimbulkan kekhawatiran soal kemampuan dunia usaha menyerap tenaga kerja dalam jangka panjang.
Daya Beli dan Krisis Properti
Keluarga-keluarga di China mulai memangkas belanja untuk barang mewah dan pembelian besar. Minat belanja tersendat akibat kemerosotan sektor properti berkepanjangan serta ketidakpastian mengenai jaminan pekerjaan dan upah.
Wakil Kepala Biro Statistik Nasional China Mao Shengyong menjelaskan, di tengah situasi global yang semakin tidak stabil dan penuh ketidakpastian, ketimpangan antara pasokan domestik yang kuat dan permintaan pasar yang lemah masih akut di dalam negeri.
Ia menegaskan bahwa seiring fokus China pada manufaktur teknologi tinggi demi mengejar pertumbuhan “ekonomi berkualitas tinggi”, pemerintah akan terus bekerja keras membangun pasar domestik yang tangguh dan memberikan stimulus untuk menjaga stabilitas lapangan kerja.
Wei Li, Kepala Investasi Multi-Aset di BNP Paribas Securities (China), mengatakan perekonomian China sedang melewati fase transisi signifikan.
Sepanjang 2026, para pemimpin China menetapkan target pertumbuhan di kisaran 4,5%–5%, sedikit lebih rendah dari target tahun lalu sebesar 5%.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini menaikkan perkiraan pertumbuhan tahunan China sebesar 0,2 poin persentase menjadi 4,6%. Namun IMF memproyeksikan ekonomi China hanya akan tumbuh 4,1% pada 2027.
Meskipun produk teknologi tinggi buatan China seperti mobil listrik (electric vehicle/EV) dan cip semikonduktor merajai pasar global, mesin ekonomi domestik menghadapi tekanan berat. Faktor utama yang menahan konsumsi adalah krisis properti yang berlangsung beberapa tahun terakhir.
Di China, properti bukan sekadar tempat tinggal melainkan instrumen investasi utama bagi hampir 70% kekayaan rumah tangga kelas menengah. Runtuhnya perusahaan-perusahaan properti besar dan mangkraknya banyak proyek apartemen membuat jutaan keluarga merasa kehilangan kekayaan, sehingga mereka menahan belanja dan memperketat tabungan.
Ambisi pemerintah untuk beralih ke “ekonomi berkualitas tinggi” berbasis otomatisasi, AI, dan robotika menciptakan tantangan baru di pasar tenaga kerja. Industri canggih bersifat padat modal, bukan padat karya, sehingga lapangan kerja konvensional di sektor jasa dan manufaktur kelas bawah terus menyusut.
Kombinasi antara hilangnya kekayaan dari sektor properti dan kecemasan akan masa depan pekerjaan memicu angka pengangguran usia muda yang tinggi. Kondisi ini membuat konsumsi domestik melemah tajam dan berpotensi memperkuat lingkaran deflasi di dalam negeri.
Ikuti Detak.media
