Detak.media — World Gold Council (WGC) melaporkan arus masuk bersih signifikan pada ETF (Exchange Traded Fund) emas di pasar logam mulia terbesar dunia sepanjang semester pertama 2026. Meski demikian, pasar China mencatat pelemahan tajam pada bulan Juni yang menekan momentum harga emas.
Data WGC menunjukkan bahwa kombinasi kenaikan imbal hasil riil dan penguatan dolar AS pada akhir Juni mendorong investor memangkas kepemilikan ETF emas, terutama di pasar China, sehingga terjadi arus keluar besar dan penurunan nilai aset yang dikelola (AUM).
Dalam laporan WGC yang dirilis pada Rabu (15/7/2026), kepala riset untuk China, Ray Jia, mencatat bahwa penurunan harga emas yang signifikan pada Juni meredam laju kenaikan aset berbasis emas.
“Pesan dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh pada pertemuan kebijakan moneter bulan lalu dianggap agresif, mendorong kenaikan imbal hasil riil dan dolar AS,” tulis Ray Jia dalam laporan terbaru WGC.
Ray Jia menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat investor mengurangi kepemilikan ETF emas dan merubah posisi opsi menjadi bearish. “Hal ini menyebabkan investor mengurangi kepemilikan ETF emas dan mengubah posisi opsi mereka menjadi bearish; meningkatnya biaya peluang dan mendinginnya momentum adalah dua faktor utama yang menekan harga emas pada bulan Juni. Baik harga emas acuan LBMA maupun harga emas acuan Shanghai Benchmark turun sebesar 11%,” paparnya.
Arus Keluar Besar di China
WGC mengungkapkan bahwa arus ETF emas di China melemah pada Juni 2026. Menurut Ray Jia, Juni menjadi bulan terburuk bagi ETF emas China secara neto.
“ETF emas China kehilangan US$ 2,2 miliar pada bulan Juni, bulan terburuk yang pernah tercatat,” ungkap Ray Jia.
Tekanan arus keluar yang besar disertai penurunan harga membuat total AUM ETF emas China turun 16% menjadi US$ 36 miliar, level terendah sejak Desember 2025.
Pelemahan pada bulan lalu memangkas arus masuk ETF emas di China menjadi US$ 5,6 miliar sepanjang tahun ini. WGC mencatat pula permintaan dalam tonase serta perubahan AUM secara keseluruhan.
“Dalam hal tonase, permintaan ETF emas di China pada semester pertama mencapai 29 ton, dan total AUM mereka sedikit meningkat sebesar 1%,” imbuh Ray Jia.
Sentimen Dan Dukungan Bank Sentral
Meski mengalami arus keluar pada Juni, WGC menilai permintaan ETF emas di China masih menunjukkan kekuatan di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
Ray Jia juga menyebut pembelian emas batangan yang berkelanjutan oleh bank sentral China (PBOC) turut memberikan dukungan sentimen pasar.
Ikuti Detak.media
