Detak.media — JAKARTA — Ekonom senior dan Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, memperingatkan penurunan kemampuan investasi dalam menciptakan lapangan kerja di Indonesia.
Ia menilai pemerintah perlu mendorong lebih banyak investasi yang berorientasi pada industri padat karya agar penciptaan lapangan kerja kembali meningkat.
Yose Rizal menyebut struktur investasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir bergeser ke sektor-sektor padat modal. Pergeseran itu dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan dominasi investasi pada sektor yang berkarakter padat modal.
“Ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga karena investasi banyak masuk ke sektor-sektor seperti pertambangan maupun industri pengolahan berbasis pertambangan yang memang relatif sedikit menyerap tenaga kerja,” ungkap Yose Rizal Damuri dalam keterangannya di Jakarta, dikutip pada Rabu (15/7/2026).
Dia menjelaskan perubahan struktur investasi tercermin dari menurunnya kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja. Sekitar satu dekade lalu, setiap investasi senilai Rp 1 triliun mampu menciptakan lebih dari 3.500 lapangan pekerjaan. Kini, nilai investasi yang sama hanya mampu menyerap sekitar 1.200 hingga 1.400 tenaga kerja.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan setiap tambahan investasi saat ini menghasilkan peluang kerja yang jauh lebih sedikit dibandingkan beberapa tahun lalu.
Di sisi lain, laju investasi juga mulai mengalami perlambatan. Meski nilai investasi secara nominal masih bertumbuh, peningkatannya tidak lagi secepat sebelumnya. Kondisi itu menjadi tantangan ketika kemampuan investasi menyerap tenaga kerja terus menurun.
Sorotan juga tertuju pada realisasi foreign direct investment (FDI) yang dalam denominasi dolar AS mengalami penurunan.
Tantangan Ganda bagi Penciptaan Kerja
Dengan demikian, terdapat dua tantangan yang dihadapi Indonesia secara bersamaan: perubahan komposisi investasi yang semakin padat modal dan perlambatan pertumbuhan investasi, khususnya investasi asing langsung.
Yose Rizal menilai pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang mampu menarik investasi ke sektor-sektor dengan daya serap tenaga kerja tinggi. Contoh industri padat karya yang disebutkan antara lain manufaktur padat karya, tekstil, alas kaki, serta makanan dan minuman, dan sektor pengolahan lainnya.
Langkah itu dinilai penting agar pertumbuhan investasi tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.
“Dari satu sisi memang ada perubahan (angka serapan tenaga kerja) di dalam struktur investasi kita,” pungkasnya.
Ikuti Detak.media
