Dua Musim Sulit Beruntun, Performa Francesco Bagnaia di MotoGP Dipertanyakan

Performa Francesco Bagnaia kembali menjadi sorotan setelah start yang mengecewakan pada musim MotoGP 2026. Mantan manajer tim MotoGP, Livio Suppo, menilai tren ini memunculkan kekhawatiran serius karena terjadi setelah musim 2025 yang juga jauh dari ekspektasi.

Bagnaia sempat menunjukkan tanda kebangkitan saat tes pramusim di Sepang. Bahkan CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, berkelakar bahwa rival Ducati sebaiknya “pulang saja” melihat kecepatan Bagnaia dalam simulasi Sprint. Namun performa itu tak berlanjut ketika musim resmi dimulai.

Setelah tiga putaran awal, pembalap Ducati Corse tersebut baru mengumpulkan 25 poin dan berada di posisi kesembilan klasemen sementara.

Massimo Rivola: Aprilia Siap Hidupkan Lagi Karier Francesco Bagnaia Usai Didepak Ducati

Hasil Balapan Jauh dari Harapan

Hasil terbaik Bagnaia sejauh ini datang di Sprint COTA ketika ia disalip pada lap terakhir oleh Jorge Martin. Selebihnya, ia finis P9 dua kali di Thailand, P8 pada Sprint Goiânia sebelum gagal finis di balapan utama Brasil, serta P10 di GP Amerika Serikat.

Sementara itu, persaingan di papan atas justru dipimpin Aprilia melalui Marco Bezzecchi (81 poin) dan Martin (77 poin).

Di kubu Ducati sendiri, VR46 Racing Team melalui Fabio Di Giannantonio menjadi yang terbaik di posisi keempat dengan 50 poin. Marc Marquez (45 poin) dan Alex Marquez (28 poin) juga mencatat perolehan lebih baik. Alex menjadi satu-satunya di antara mereka yang menggunakan GP25.

Suppo menyebut performa Bagnaia “aneh” karena hanya terlihat cepat dalam momen tertentu.

“Yang aneh adalah melihat Pecco hanya cepat dalam kilasan. Ini mengkhawatirkan. Satu musim buruk bisa terjadi, tetapi jika dua musim beruntun, akan jauh lebih sulit untuk bangkit,” ujar Suppo kepada GPOne.

Pada 2025, Bagnaia mengalami musim terburuk sejak 2020 dengan enam kali gagal finis dalam tujuh seri terakhir dan turun ke posisi kelima klasemen akhir.

Masalah Grip Belakang dan Keausan Ban

Salah satu akar masalah disebut terkait adaptasi dengan Ducati GP25. Di GP Amerika Serikat, Bagnaia mengeluhkan keausan ban yang ekstrem hingga hampir kehilangan grip belakang setelah delapan lap.

Kondisi ini membuatnya kesulitan saat pengereman di fase balapan, meski catatan waktunya saat latihan dan kualifikasi relatif kompetitif. Kontras inilah yang membuat performanya terlihat menjanjikan di awal pekan, tetapi merosot saat lomba utama.

Bagnaia dikenal sebagai pembalap yang konsisten dan piawai mengatur ritme balapan saat berada di puncak performa. Namun dua musim beruntun yang bermasalah membuat banyak pihak mulai mempertanyakan apakah ia bisa kembali ke level tersebut.

Pindah ke Aprilia, Francesco Bagnaia Terancam Kehilangan Crew Chief Andalannya

Bagi penggemar MotoGP, situasi ini menjadi ironi tersendiri mengingat Bagnaia adalah juara dunia dua kali yang dalam empat musim sebelumnya selalu menjadi kandidat kuat perebut gelar.