Detak.media — Tahun 2026 mencatat kelanjutan tren peningkatan pembelian emas oleh bank-bank sentral di berbagai negara. Kepemilikan resmi emas pemerintah di seluruh dunia dilaporkan telah melampaui 36.000 ton, angka tertinggi dalam 50 tahun terakhir.
Harga emas sempat memecahkan beberapa rekor sepanjang 2025 dan terus naik ke beberapa bulan pertama 2026. Sejumlah bank sentral mempercepat akumulasi emas untuk memperkuat dan mendiversifikasi cadangan devisa, sementara negara lain memanfaatkan harga tinggi untuk merealisasikan keuntungan lewat penjualan.
Analisis tim BestBrokers atas data terbaru Dewan Emas Dunia menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi emas dalam portofolio cadangan sejumlah negara. Saat ini ada sembilan negara yang mengalokasikan lebih dari 80% cadangan devisa mereka ke dalam bentuk logam mulia.
BestBrokers mencatat bahwa Venezuela menempati posisi paling bergantung pada emas; komposisi emas dalam cadangannya tidak berubah sejak 2018.
Negara-Negara Dengan Porsi Cadangan Devisa Terbesar Dalam Bentuk Emas
- Venezuela: 161,2 ton emas mencakup 92,50% dari total cadangan devisa, nilainya mencapai US$ 24,4 miliar.
- Uzbekistan: 414,3 ton emas mencakup 86,90% dari total cadangan devisa, nilainya mencapai US$ 62,9 miliar.
- Bolivia: 23,5 ton emas mencakup 85,70% dari total cadangan devisa, nilainya sebesar US$ 3,5 miliar.
- Amerika Serikat: 8.133,5 ton emas setara 83,30% dari total cadangan devisa, nilainya sebesar US$ 1,2 triliun.
- Jerman: 3.350,25 ton emas setara 83,00% dari total cadangan devisa, nilainya sebesar US$ 509 miliar.
- Lebanon: 286,8 ton emas setara 81,20% dari total cadangan devisa, kepemilikan emas saat ini bernilai US$ 43,5 miliar.
- Republik Kirgistan: 47,6 ton emas mencakup 81,10% dari total cadangan devisa, kepemilikan emas saat ini bernilai US$ 7,2 miliar.
- Prancis: 2.437 ton emas setara 80,90% dari total cadangan devisa, kepemilikan emas saat ini bernilai US$ 370,2 miliar.
- Italia: 2.451,8 ton emas setara 80,00% dari total cadangan devisa, kepemilikan emasnya bernilai US$ 372,5 miliar.
Data ini mencerminkan pergeseran strategi sebagian bank sentral dalam beberapa tahun terakhir: memperbesar eksposur terhadap emas sebagai bagian dari cadangan devisa di tengah harga logam mulia yang meningkat.
Ikuti Detak.media
