— Operasi intelijen rahasia diduga menghubungkan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dengan badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, dalam upaya yang dimaksudkan untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran. Bocoran dokumen dan keterangan sumber dari AS serta Iran menyebutkan serangkaian pertemuan, dukungan pembiayaan, dan langkah-langkah perubahan citra yang dijalankan untuk memuluskan rencana itu.

Menurut informasi yang beredar, langkah-langkah itu meliputi kunjungan internasional, pertemuan rahasia dengan mantan pimpinan Mossad, evakuasi setelah serangan udara, serta status Ahmadinejad yang kini dikabarkan berada di bawah tahanan rumah yang dikawal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Beberapa Sumber Menyebut Pertemuan Rahasia di Hungaria

Dokumen dan keterangan sumber yang dikumpulkan menyatakan Ahmadinejad melakukan beberapa kunjungan ke Hungaria pada 2024 dan 2025. Kunjungan itu disebut menggunakan dalih resmi untuk menghadiri konferensi iklim di Ludovika University of Public Service, namun dalam sela-sela agenda resmi ia diduga menggelar pertemuan rahasia dengan mantan Kepala Mossad, David Barnea, beserta sejumlah agen intelijen Israel lainnya.

Sumber dari AS menyebut seluruh biaya perjalanan dan akomodasi mewah Ahmadinejad selama di Hungaria dibiayai secara diam-diam oleh pihak Israel.

Perubahan Citra Untuk Pasar Barat

Laporan menyebut operasi ini termasuk upaya mengubah penampilan fisik Ahmadinejad agar lebih mudah diterima oleh publik Barat. Ia dilaporkan mulai meninggalkan jaket khasnya dan beralih ke setelan jas formal, merapikan janggut, menjalani perawatan botoks, serta intensif belajar bahasa Inggris.

Evakuasi Pasca Serangan dan Keraguan Ahmadinejad

Puncak operasi rahasia disebut terjadi pada akhir Februari 2026, ketika sebuah serangan udara yang dilancarkan Israel menargetkan kediaman pribadi Ahmadinejad di Teheran. Setelah insiden itu, Ahmadinejad dilaporkan dievakuasi oleh agen-agen Mossad menggunakan sebuah mobil Peugeot berwarna hitam.

Meski berhasil dikeluarkan dari lokasi serangan, laporan menyatakan Ahmadinejad mulai meragukan komitmen dan kemampuan Israel untuk mendudukkannya kembali ke tampuk kekuasaan tertinggi di Iran.

Tahanan Rumah dan Pembongkaran Dokumen Rahasia

Pelarian rahasia itu tidak berlangsung lama. Menurut sejumlah narasumber tingkat tinggi di Iran, Ahmadinejad kini berada dalam status tahanan rumah yang dijaga ketat oleh IRGC. Badan intelijen Iran dikatakan berhasil mengendus dan membongkar dokumen yang menguraikan hubungan rahasia antara Ahmadinejad dan Israel tak lama setelah insiden Februari.

Sejak pembongkaran itu, mantan presiden yang dikenal vokal jarang terlihat di depan publik.

Kekecewaan Politik dan Janji Tertutup

Sumber terdekat Ahmadinejad menyampaikan sang mantan presiden merasa kecewa dan frustrasi terhadap sistem politik Iran, terutama setelah mengalami tiga kali diskualifikasi berturut-turut dalam upaya pencalonannya sebagai presiden. Laporan menyebut secara tertutup Ahmadinejad sempat melontarkan janji, jika dirinya berhasil merebut kembali kekuasaan, ia bersedia mengakui kedaulatan Israel melalui kesepakatan damai Abraham Accords.

Latar Belakang dan Implikasi

Mahmoud Ahmadinejad memimpin Iran selama dua periode, 2005–2013. Setelah lengser, upayanya kembali ke kancah politik praktis kerap kandas karena penyaringan oleh Dewan Garda. Hubungan Iran dan Israel selama dekade terakhir ditandai ketegangan geopolitik sejak Revolusi Islam 1979, sementara Ahmadinejad semasa menjabat dikenal sebagai tokoh garis keras yang vokal mengecam Israel.

Diskualifikasi berulang yang menimpa Ahmadinejad mencerminkan adanya persaingan faksi dan retakan internal di kalangan elite Iran. Jika tudingan perekrutan rahasia oleh Mossad terbukti, langkah itu akan masuk dalam salah satu contoh penetrasi intelijen yang sangat dalam dan berani di kawasan Timur Tengah.