— Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada Rabu (15/7/2026) mengesahkan rancangan undang-undang yang akan menjadikan Daylight Saving Time (DST) sebagai waktu permanen di seluruh negeri. Pemungutan suara di DPR berakhir dengan kemenangan mayoritas, 308 berbanding 117.

RUU itu, jika akhirnya menjadi undang-undang, akan menghentikan praktik memajukan dan memundurkan jam dua kali setahun. Namun sebelum menjadi resmi, naskah masih harus mendapatkan persetujuan Senat dan ditandatangani presiden.

Para pendukung RUU berargumen aturan baru memberi lebih banyak sinar matahari pada sore hari ketika aktivitas warga sedang tinggi. Selain itu, sejumlah legislator menyatakan perubahan ini dapat mengurangi gangguan akibat penyesuaian waktu berkala dan memberi manfaat ekonomi bagi usaha lokal.

Meski demikian, negara bagian tetap diberikan ruang untuk menolak perubahan ini selama badan legislatif lokal mengambil tindakan sebelum RUU diundangkan menjadi undang-undang.

Argumen Pendukung

Perwakilan Partai Republik dari Florida Gus Bilirakis menyatakan warga AS sudah siap untuk menghentikan tradisi tersebut. Menurutnya, menyesuaikan jam dua kali dalam setahun “hanya menciptakan gangguan yang tidak perlu.” Bilirakis menilai aturan baru akan memberi keluarga lebih banyak waktu terang di sore hari untuk beraktivitas di luar sekaligus menggerakkan bisnis lokal.

“Di Florida, negara bagian asal saya di mana pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi, memiliki jam terang yang lebih terprediksi adalah peningkatan praktis yang menguntungkan para pekerja, pelaku usaha, dan wisatawan secara bersamaan,” ujar Bilirakis.

Kekhawatiran dan Kritik

Penentang RUU memperingatkan konsekuensi pagi yang lebih gelap pada musim dingin. Mereka mengatakan situasi tersebut bisa menimbulkan risiko keselamatan, karena anak-anak harus menunggu bus sekolah dan orang tua pergi bekerja dalam kondisi kurang cahaya matahari.

“Jutaan warga Amerika akan terbangun di bulan-bulan musim dingin dalam kegelapan total, dengan matahari yang baru terbit lama setelah orang-orang berangkat ke sekolah, bekerja, atau memulai aktivitas harian mereka,” kritik perwakilan Partai Demokrat asal Pennsylvania Mary Gay Scanlon.

Perwakilan Demokrat dari Massachusetts Jim McGovern menyampaikan nada berbeda: meski mendukung tujuan RUU, ia mempertanyakan prioritas Kongres saat ini.

“Bagi masyarakat yang sedang terhimpit oleh biaya sewa rumah, belanja bahan makanan, tagihan listrik, hingga biaya kesehatan, apakah ini benar-benar hal terbaik yang bisa dilakukan oleh mayoritas anggota dewan? Apakah ini memang masalah paling mendesak bagi rakyat Amerika saat ini?” cecar McGovern.

Didukung Publik dan Gedung Putih

Meski menuai pro-kontra, mayoritas publik terlihat mendukung konsep waktu permanen. Jajak pendapat 2025 menunjukkan 56% orang dewasa memilih menjadikan DST permanen jika harus memilih satu opsi waktu seragam untuk seluruh negeri; sekitar 40% memilih waktu standar.

Gedung Putih juga menyatakan dukungan sebelum pemungutan suara di DPR, menyebut RUU bertajuk “Sunshine Protection Act” sebagai reformasi yang populer. Penasihat kepresidenan mengatakan akan merekomendasikan presiden menandatangani RUU itu begitu sampai di meja kerja presiden.

Sejarah dan Alasan Perdebatan

Perhatian terhadap manfaat dan dampak DST bukan hal baru: konsep ini pertama kali digagas secara resmi pada masa Perang Dunia I sebagai upaya penghematan energi. Dengan memajukan jam satu jam pada musim semi, masyarakat diharapkan menikmati lebih banyak waktu siang di sore hari sehingga penggunaan listrik di rumah dapat berkurang.

Namun efektivitas penghematan energi dari DST mulai dipertanyakan seiring perubahan teknologi dan gaya hidup. Sementara itu, berganti waktu dua kali setahun disebut-sebut menimbulkan masalah kesehatan, termasuk gangguan pola tidur, peningkatan risiko serangan jantung pada transisi awal, serta kebingungan administrasi transportasi publik.

Argumen-alasan inilah yang mendorong dorongan politik untuk mengakhiri kebiasaan “bongkar pasang jam” dan menetapkan satu waktu permanen di Amerika Serikat.